Tuesday, February 06, 2018

Cerita tentang Oma Lena

Kemarin, senin 5 februari 2018, salah satu kerabat yang juga merupakan orang yang berjasa besar dalam hidup mama, dalam hidup saya, berpulang ke rahmatullah. Memang beberapa tahun terakhir beliau diketahui mengidap kanker payudara, tetapi payudara sudah di angkat, sudah kemo, dan dinyatakan sehat. Beberapa waktu yang lalu terdengar kabar beliau di rawat di rumah sakit karena paru-parunya terendam cairan, tetapi alhamdulillah membaik. Jadi ketika pagi-pagi buka whatsapp grup keluarga ada berita duka, saya tercenung. Ternyata, setelah keluar dari RS oma Lena bernazar, kalau uang pensiunnya turun beliau mau umroh. Kemudian beliau pergi unroh bersama saudara-saudaranya. Qodarullah, pulang umroh oma Lena sesak nafas, di larikan ke RS, kemnudian berpulang untuk selama-lamanya. Memang, usia manusia sudah di takdirkan sejak di tiupkan ruh, tetapi tetap rasanya sedih sekali. Apalagi, lagi-lagi saya nggak bisa ikut mengantar ke pemakaman 😭



Nama beliau lena zaenah, saya memanggilnya oma lena. Secara usia, oma lena hanya terpaut beberapa bulan lebih tua dari mama saya. Tetapi secara pangkat di keluarga, seharusnya mama memanggil tante ke oma lena. Karena ayahnya oma lena adalah adik beda ibu dari datuk kai. Which is, saya manggil ayahnya oma lena juga datuk (buyut). Karena mama dan oma lena seumuran, juga seangkatan, mama manggil oma lena dengan sebutan kak. Jaman dulu, tahun 80-90an itu panggilan oma masih jarang. Ketika diledekin bahwa beliau secara pangkat adalah nenek saya, dengan ceplas ceplos beliau bilang, "Nggk mau ye gue dipanggil nenek. Oma aje oma, ye?". Maka sejak itu saya dan adik saya memanggilnya oma Lena.

Oma Lena ini adalah orang yang cantik, cerdas, pintar, juga tahan banting dan bersemangat tinggi. Ayahnya oma Lena tidak kurang bertanggung jawab terhadap keluaraga dan meninggalkan keluarganya untuk kemudian menikah lagi. Oma Lena sebagai anak tertua merasa bertanggung jawab, selepas Smu oma Lena tidak melanjutkan pendidikan dengan kuliah, tetapi langsung bekerja. Qodarullah, memang orang baik selalu berjodoh dengan hal baik, beberapa tahun kemudian oma Lena bekerja di oil and gas company, yang mana udah pada tahu kan ya kalo di perusahaan minyak gaji, tunjangan dan kesejahteraannya pasti terjamin. Oma Lena kerja di Conoco, sekarang berubah menjadi Conocophillips. Hingga akhir hayat, oma Lena nggak pernah pindah kerja, cuma disana sampai saatnya pensiun beberapa waktu lalu.

Berkat kerja kerasnya, oma Lena berhasil menyekolahkan adik-adiknya hingga masing-masing mandiri dan menikah, membeli rumah untuk beliau dan ibunda beliau tinggal, juga masih menanggung keponakan-keponakannya. Sungguh, beliau wanita tangguh. Saya kagum dengan beliau. 

Tapiii, karena sibuk bekerja dan mencari uang untuk menghidupi keluarga, oma Lena hingga usia matang masih belum menikah. Ketika akhirnya beliau menikah, ibunda beliau luar biasa bahagia. Sayapun bahagia.. Beliau orang baik, cuma memang keras pembawaanya, karena kehidupan memaksanya menjadi seperti itu. Beliau juga macho, dari dulu rambutnya selalu potong pendek ala demi moore gitu. Terus gitu merokok. Coba bayangkan, tahun 80-90an, perempuan, rambut pendek, merokok, imagenya kayak apa. Tapi oma Lena cuek aja. Selama dia benar, kerja halal, keluarganya tercukupi, beliau nggak perduli apa kata orang.

Di akhir tahun 80an, kalau nggak salah tahun 1989, mama saya, sedang tidak bekerja. Sedangkan saya, adik saya, membutuhkan biaya yang nggak sedikit. Suatu ketika mama ketemu sama oma Lena dan bertanya, ada pekerjaan kah di Conoco yang bisa buat mama? Jadi cleaning service, jadi apa aja boleh selama halal dan bisa kasih makan saya dan adik saya. Sayangnya saat itu nggak ada, tapi oma Lena memberikan kartu nama dan mengenalkan dengan salah satu kenalannya, namanya tante saniah. Tante Saniah memberikan lowongan pekerjaan untuk mama, bukan di Conoco, tapi di Cpi atau Caltex Pacifix Indonesia, sekarang sih udah ganti nama jadi Chevron. Meskipun cuma pekerja temporer alias bukan pegawai, tapi alhamdulillah mama bisa bekerja di perusahaan yang baik dan bisa menyekolahkan saya dan adik saya hingga sarjana. Mama kerja di Caltex sampai medio 2013, setelah itu berhenti. Bukan karena mama mau berhenti, tetapi karena peraturan mentri Yacob Nuwa Wea ketika itu mengenai pekerja kontrak sehingga Caltex memutuskan untuk memutus hubungan kerja. 

Kembali ke cerita tentang oma Lena, kalau saja oma Lena tidak mengenalkan mama ke tante Saniah, mungkin mama nggak bisa bekerja di perusahaan yang bagus. Mungkin mama entah akan kerja apa, dan saya serta adik saya mungkin tidak bisa sekolah di sekolah yang baik, memiliki kehidupan yang alhamdulillah baik tidak kurang satu apapun. Memang rezeki sudah di takdirkan oleh Allah, setiap yang lahir sudah ada garis rezekinya, tetapi tugas manusia tetaplah mencari rezeki tersebut, di jalan yang halalan thoyyiban. Oma Lena, sungguh sangat berjasa. Rezeki saya, keluarga kami, dibuka lewat oma Lena. Ketika itu, mama saya sudah desperate. Bahkan adik-adik nenek ketika itu tidak mengizinkan mama bekerja di tempat mereka (adik-adik almarhumah nenek ada yang mengelola tempat usaha) dengan alasan kasihan. Tapi apa tidak kasihan dengan saya dan adik saya yang butuh biaya? Sungguh Allah maha adil, mama di tolak bekerja oleh paman-pamannya, tapi Allah berikan pekerjaan di tempat yang lebih baik. Alhamdulillaah..

Oma Lena juga perduli dengan saya dan adik saya. Walau jarang bertemu, tapi ketara beliau perhatian dengan mama, nenek, juga ii. Pernah suatu waktu, mama saya harus pergi. Nenek tidak bisa di titipi karena ada acara, ii harus mengajar dan cuma bisa membawa saya. Papa nggak mau dititipin adik saya. Saat itu oma Lena berujar sambil tertawa, "sini bawa aja ke kantor gue, gue masukin laci ntar." Mama cuma ketawa, memang begitulah oma Lena. Menghibur, dengan caranya sendiri.

Dulu, hampir setiap lebaran saya, nenek, juga mama dan adik saya datang berkunjung ke rumah oma Lena di pesanggrahan sana. Naik bus, naik kopaja, berangkat pagi, sampe rumah malam. Dulu saya nggak paham, kenapa sih harus jauh-jauh kesana. Saya anak yang lebih demen main di rumah, jadi berpergian jauh, naik kendaraan umum itu sedikit membosankan untuk saya. Tapi bertahun kemudian saya tau, selain sebagai bentuk silaturahmi, itu juga bentuk kasih sayang dan penghormatan untuk oma Lena dan keluarganya.

Saya lupa kapan terakhir kali main ke pesanggarahan. Saya nggak ingat kapan terakhir kali bertemu oma Lena. Seingat saya di sebuah acara pernikahan, entah sudah berapa lama. Semenjak dewasa dan menua, juga semenjak nenek berpulang, saya jarang pergi jauh dan bersilaturahmi. Apalagi sejak punya Alif Bilal, perasaan saya cuma di rumah doang. Sedih, karena silaturahmi ke keluarga sangat berkurang. Ketemu oma Lena juga cuma di acara-acara, cuma sebentar. Beliau tetap cuek orangnya, tapi sudah berhenti merokok, sudah berhijab, sudah lebih perempuan. Saya kagum sekali dengan oma Lena, dan sangat berterima kasih. Tetapi ucapan terima kasih itu belum pernah terucap dari saya.

Hingga kemarin, tiba-tiba oma Lena berpulang. Saya sedih, nggak bisa ketemu lagi sama oma saya yang hippies itu. Nggak ada lagi candaan ceplas ceplosnya. Nggak ada lagi sosok machonya yang bikin saya kadang terperangah. Saya akan sangat merindukan oma Lena. Walau jarang bertemu, walau jarang bercengkrama, tapi saya punya satu sudut khusus untuk mengenang oma Lena.

Oma Lena orang baik. Sangat baik. Kemarin, ketika akan di makamkan di pemakaman keluarga di cipayung, ada longsor di puncak. Jalan di tutup, di alihkan. Saya udah berfikir macam-macam, tapi Allah maha baik. Perjalanan jenazah sangat lancar, sampai di rumah cipayung tepat waktu, lalu di makamkan, selesai pemakaman baru turun hujan. Masya Allah... :')

Selamat jalan oma Lena. Oma sudah nggak sakit lagi, udah nggak mikirin macam-macam lagi. Oma Lena udah tenang sekarang. Saya nggak akan lupain oma Lena, insya Allah amal baik oma Lena akan selalu menemani oma di dalam kubur. Semoga Allah lapangkan dan terangi kubur oma Lena, Allah tempat oma di tempat terbaik. Semoga nanti kita semua nanti ketemu lagi, berkumpul bareng-bareng di syurgaNya ya oma. Oma kalo ketemu enek titip cium ya buat enek, buat datok dijah juga. You'll be missed oma... 😘😘

No comments:

Post a Comment