Thursday, August 18, 2016

a woman heart is a deep ocean of secrets


a woman heart is a deep ocean of secrets

Kalimat the old Rose di film Titanic ini tiba-tiba terbayang, setelah seorang sahabat menceritakan isi hatinya yang dipendam belasan tahun lalu. Beberapa bulan lalu dia ada bilang, kalo kami ketemuan mau cerita sesuatu. Tapi ternyata waktunya nggak ada, saking penasarannya saya tagih lah di chat.

Awalnya dia hanya cerita tentang abang-abangan kami yang fake dan nyebelin, sampe dia sebel sama saya jugak. Ya emang saya nyebelin sih, suka belaga bego dan terlalu percaya sama laki. Percayalah, nggak ada hubungan abang ade yang pure abang ade kecuali terlahir dri rahim yang sama. Jadikan pelajaran wahai kisanak. Saya nggak sebel dia cerita gitu, cuma heran aja bisa kuat mendem perasaan sebel sekian lama. Hahahaha...

Lalu kemudian dia mengakui satu hal cukup bikin saya lumayan gonjang ganjing untuk beberapa menit, untungnya saya baca pas lagi nungguin alif sekolah. Bahwasanya dia adalah seorang secret admirer dari ex bf saya. Dan dia sungguh jatuh cinta sampai susah sekali move on. Dueeerrr!!!!

Mungkin kalo kejadian kayak gitu terjadi sama abege jaman sekarang, akan muncul vlog sambil nangis tersedu-sedu, atau adegan jambak-jambakan nggak mutu. Syukurnya saya abege jaman dulu yang sekarang sudah beranak pinak, jadi cuman syok sebentar lalu heran terus sebel.


Saya nggak sebel dia suka sama mantan saya itu, beneran. Saya sebel karena dia nggak cerita sedikitpun sama saya. Saya ngerasa nggak dianggep temen. Mungkin juga kalau dia ngaku saat kami masih jadi abege labil, dia takut kita jadi awkward atau saya mungkin musuhin dia, secara saya orangnya baper-an dan nggak bisa ditebak. Hahahaha... Syukur juga ceritanya sekarang, saat kami berdua sama-sama sudah jauh lebih matang dan dewasa, sehingga bisa menertawakan kebodohan masa lalu, walau ketawanya getir. Huehehehe....

Tapi jujur, nggak mungkin saya bisa musuhin dia even dia ngaku cinta setengah mati sama mantan lelaki saya. Dia termasuk satu dari sedikit sekali manusia di bumi ini yang nggak ninggalin saya waktu saya lagi bego-begonya, nggak ngejudge saya waktu saya lagi sakit jiwa, nggak ngejauhin saya ketika orang-orang memandang saya aneh, nggak ikut bergunjing di belakang saya ketika semua orang membicarakan ketololan saya. She's there. Always there. Even saya lagi tantrum, dia tetep cool. I just feel that i can't be fake with her. She knows me well. She's just like a sister that i never have. Dan saya nggak sebegitu bodohnya untuk membenci manusia yang sesebel-sebelnya sama saya masih mau temenan sama saya, masih mau dengerin bacotan saya, masih mau ngurusin saya, hanya karena seorang lelaki. I'll be a foolish person ever if i'm ever doing it.

Actually, saya juga ngerasa bersalah karena selalu cerita sama dia (karena hanya sahabat saya ini yang saya ceritakan tentang si ex bf, no one else), tentang apapun yang berhubungan dengan lelaki itu, tentang bagaimana saya nggak bisa menghilangkan rasa saya sama lelaki itu dalam jangka waktu yang lama, tentang bagaimana saya yang selalu pias ketika bertemu kembali dengan si lelaki karena jantung saya yang mencelos ke dengkul dan berdegub nggak karuan sampai kadang terasa sesak. Saya kadang meminta sahabat saya tersebut untuk menelpon si lelaki ketika saya rindu, hanya agar saya tau kabarnya, cerita tentangnya, saking saya nggak berani berbicara dengannya.

Ohya, saya memang cemen. Ketika itu saya betul-betul jatuh cinta, dan saya betul-betul patah hati saat dia memutuskan saya hanya beberapa hari setelah kami jadian. Hingga saat ini saya menganggap si lelaki sedang khilaf ketika jadian dengan saya, dan saat dia sadar dia langsung memutuskan saya. Saya masih abege, entah berapa bantal jadi saksi air mata saya. Saya butuh bertahun-tahun untuk benar-benar rela melepaskan lelaki itu dari hati saya, walau kadang tanda tanya itu masih muncul.

Dan ketika sahabat saya bercerita, tentang dia yang menahan rasa, tentang dia yang selalu lonjak-lonjak kalau saya memintanya untuk menelpon si lelaki, tentang dia yang berupaya mendekat dengan si lelaki dalam bayangan. Lalu ada cerita ketika si lelaki seperti benar-benar tertarik dengan sahabat saya namun dia ketelepasan menolak karena disitu ada saya dan ngerasa nggak enak sama saya. Andai saya tau, sungguh saya lebih rela si lelaki jadian dengan sahabat saya dibanding dengan wanita lain.

Saya tanya, kenapa nggak ngaku kalo suka? Sahabat saya bilang, dia lebih rela dekat sebagai teman daripada harus kehilangan si lelaki. Dalam hati saya memaki-maki. Beneran kayak di komik-komik dan novel yang saya baca. Too scary to be real. Jeez...

Lalu sahabat saya minta maaf. Karena pernah menyukai lelaki yang sama. Karena pernah menginginkan lelaki yang sama. Karena pernah sama-sama berdebar ketika membahas lelaki itu. Lelaki yang sama-sama bikin kami mabuk kepayang. Lelaki yang nggak bisa kami miliki. Lelaki yang di hatinya tidak pernah ada saya. Lelaki yang mungkin pernah menaruh rasa pada sahabat saya.

Saya termenung.
Dan teringat kalimat rose tersebut. Wanita sanggup memendam cintanya di satu ruang rahasia hatinya, sanggup menyembunyikan banyak hal, sanggup mencintai dan menangis dalam diam, sanggup berdegub hanya pada satu lelaki walau tak berbalas, sanggup memendam tanya tak terjawab. Sanggup terluka dan tertawa secara bersamaan. Sungguh, sedalam apakah lautan hati seorang wanita?


0 comments:

Post a Comment