Friday, December 25, 2015

5 - 8 Weeks, Baby #2

Cerita trimester pertama si dede dimulai dari memastikan kehamilan ke dsog. Pas daftar udah dapat antrian nomor 15 aja. Ya sudahlah, emang dari jaman dulunya antriannya selalu mengular naga panjang. Pe-ernya cuman gimana bikin si kakak anteng dan nggak muter kayak gasing yang berakhir gagal total komandan. Si kakak mah susah bener antengnya, akhirnya di sogok you tube baru mau duduk anteng,*jangan ditiru, ini contoh parenting yang buruk*  itupun cuma beberapa saat sampe dia bosen minta naik turun tangga, goler-goler di ubin, minta naik lift sampe manjat kursi. Pas saya mau timbang dan ukur tensi, ngamuk dong dia. Bundanya nggak boleh timbang. Ya sudahlah, abaikan saja dan biarkan abahnya yang menyelesaikan secara adat, saya cuek timbang dan tensi. Berat 54 kilo, tensi 110/70. Normal, dan sama banget kayak cek kehamilan Alif. Ya beratnya, ya tensinya. Cumaaaa... Susternya nanya, "ibu kontrol melahirkan ya?" Glodhaaaaakk... Emang saya segendud itu yaaa sampe dibilang kontrol melahirkan. Huhuhuhuu... Cuman senyum dan bilang, "Nggak kok, malah baru telat nih, mau ngecek ke dokter." Susternya nampak salah tingkah dan nanya kehamilan keberapa, ada keluhan apa nggak. Saya bilang nggak ada keluhan. Udah, terus di suruh nunggu.


Pas udah giliran saya, nggak terlalu malem sih, setengah 11 kalo nggak salah. Dokternya surprise juga ketemu saya dan saya juga surprise si dokter masih inget saya dan kasus saya dulu. Dokter keren deh, nggak percuma antri panjang, dokternya perhatian sama pasien. Lalu pas liat Alif, lebih surprise lagi. Alhamdulillaah, Alifnya sehat pinter dan nggak kelihatan kalo pas di perut bermasalah lalu lahir premature. Ditanya-tanya deh kapan mens terakhir, terus tespek gimana. Abis itu Usg Vaginal, karena kalo dilihat dari Hpht masih kecil banget dan kalo Usg perut belum terlalu kelihatan. Hasilnya, alhamdulillah kantong janinnya ada, lalu yolk sac-nya juga ada. Kemudian, dokternya bilang, "Tapi ini nih, qi... Ukuran yolk sac-nya agak kurang." Jeng jeng jeng... Apa lagi nih.... Menurut hasil Usg, ukuran yolk sac saya cuma 2,2  mm yang mana normalnya ukuran Yolk sac itu 3 - 7 mm. Saya tanya kenapa bisa begitu? Menurut dokter itu sudah dari sananya aka kuasa Alloh, dan nggak bisa diapa-apain alias nggak ada usaha apapun yang bisa bikin yolk sac itu membesar. Plus, ada perdarahan dalam rahim saya. Tapi lagi-lagi dokter membesarkan hati saya, walaupun abisannya ngasi tau hal-hal yang agak bikin mencelos juga. Dokter bilang kita berusaha semaksimal mungkin, lihat hasil lab juga ya. Insya Alloh dia mampu bertahan. Dokter juga langsung minta saya buat tes darah dan test urine, untuk melihat hormon progesteron (atau hcg ya, lupa euy), kadar gula darah dan ada infeksi apa nggak. Menurut dokter, kalau hormon progesterone (atau hcg) berada diantara 18.000 - 25.000, insya Alloh si dede mampu bertahan. Kalao dibawah 18.000 atau bahkan dibawah 10.000, dia kan rentan luruh. Saya nggak diresepin penguat kandungan, cuma di resepin folamil genio, caloma plus sama ascardia, mengingat riwayat hamil sebelumnya yang pengentalan darah.

Gimana dengan perdarahan?
Menurut dokter, penyebabnya bisa infeksi atau kontraksi yang tidak saya rasakan. Soalnya saya juga nggak ada flek sama sekali, jadi murni perdarahan di dalam. Dokter juga tanya, saya mual parah apa nggak. Dengan pd-nya saya jawab nggak mual dok. Jawaban yang mulai saya sesali keesokan harinya. Hahahaha....

Abis dari dokter langsung ambil darah dan urine terus pulang dan laporan sama semua orang, terus langsung googling. Ternyata ada juga yang yolk sac-nya kecil, tapi kemudian janinnya berkembang dengan sehat dan sempurna. Bismillah, kalau Alloh izinkan nggak ada yang nggak mungkin.

Besokannya kangmas ke RS ngambil hasil lab, yang alhamdulillaah bagus semua. Gula darah normal, nggak ada infeksi, hormon pun normal untuk usia kehamilan 5 minggu. Cuma hb sedikit rendah, dan emang udah dari dulu juga hb saya cenderung rendah.

Hari itu (sabtu) hidung dan tenggorokan mulai terasa nggak enak dan berlendir. Besokannya mulai mual dan ludah serta lendir makin banyak. Hari senin sudah mulai mual muntah, hypersalivasi dan mucus yang berlebihan, persis hamil Alif. Jadi ya sudahlah, dinikmati saja. Bawa kantong kresek kemana-mana untuk meludah dan mengeluarkan lendir plus untuk muntah. Mual muntah yang masih bisa di atasi, habis mual masih bisa makan. Cuma nggak bisa minum susu, nggak bisa makan dan minum yang manis karena efeknya mulut jadi asem dan memicu muntah. Nggak bisa minum banyak, pasti langsung muntah.

Dan makin hari makin parah. Serius. Waktu Alif saya muntah nggak sering, cuma kalo sikat gigi dan kalo mual parah banget. Yang memacu mual biasanya lendir-lendir itu. Nah kali ini mual muntahnya luar biasa. Minum jeniper pagi-pagi, 2 menit kemudian muntah parah sampe keluar-keluar lewat hidung. Makan buah, muntah berkali-kali lipat sampe cairan lambung keluar. Sehari cuma bisa makan dan nggak muntah sekitar 2 kali. Sisanya pasti muntah walaupun sedikit. Kemana-mana bawa kresek dan kayu putih, karena kalo kabur ke kamar mandi nggak keburu, seringnya langsung oek disitu juga. Nggak usah tanya lemesnya kayak apa. Tetep saya paksain makan dan minum vitamin. Kalau keluar lagi itu urusan belakang, yang penting saya udah berusaha.

Yang paling kasihan Alif, jadi kurang keurus. Saya jadi gampang emosi, udah gitu kan lemes banget karena muntah, Alifnya kurang ditemenin main. Terus dilarang gendong-gendong Alif, dan Alifnya makin kolokan minta gendong dan main-main. Duh nak, maafin bunda ya... Mudah-mudahan abis ini dedenya sehat kuat, bunda bisa fokus main dan gendong Alif lagi. Doa saya, semoga mual muntahnya di semester 1 aja, nggak tega sama kangmas dan Alif yang kurag keurus.

Semoga kehamilan kali ini sehat-sehat dan lancar. Aamiin...

0 comments:

Post a Comment