Friday, October 31, 2014

BIP : Cinta Pertama


 

Apa kabarmu, hai cinta pertama
Ceritakanlah dulu, selepas kau dari aku...

Berapa banyakkah cinta yang menghampiri
Setelah sekian waktu, apa kau bahagia?

Teruslah mencari, sampai dapat yang sejati.
Walau tak seindah kisah, Cinta pertama...

Chorus :

Jika kita jatuh cinta..
Takkan sama rasanya....
Jika kita jatuh cinta.. 
Takkan seperti dulu...

Indah cinta pertama, 

Tak terulang lagi.
Itu abadi...
Indah cinta pertama, 

Tak terulang lagi.
Hanya sekali...
Itu abadi .....


Judul : Cinta Pertama
Artis : BIP
Album : Min Plus, 2002

Monday, October 27, 2014

Membaca dan buku-buku

Pic Source Here
Saya suka banget membaca, terutama membaca komik dan novel. Lagipula, siapa sih yang nggak suka baca komik? Errr... Ada juga sih beberapa orang yang saya kenal yang nggak suka membaca, tapi mostly saya dekat dengan orang-orang yang suka membaca, walaupun mugkin hanya baca komik. Hihihihi....

Masa kecil saya penuh dengan buku dan membaca. Ibu saya, suka membelikan saya buku-buku bacaan, termasuk buku dongeng nusantara sampe dongeng internasional, komik, bahkan berlangganan majalah Bobo, majalah anak-anak yang terkenal semasa saya kecil. 

Saya besar di dalam keluarga yang menyukai membaca. Almarhumah nenek saya, juga suka sekali membaca. Disela-sela membereskan belanjaan pasar, saya sering melihat nenek membaca berita-berita pada sobekan kertas koran pembungkus belanjaan. Kalau sedang berkunjung dan harus menunggu, nenek saya suka sekali sembari membaca koran, majalah, atau tabloid yang terkadang bergeletakan dibawah meja tamu, tak perduli edisi baru atau lama. Ibu saya, penggila komik Ko ping ho semasa kecilnya dan penyuka novel misteri. Ibu saya sering bercerita, kalau lagi baca komik suka ngumpet di kolong meja, takut ketahuan nenek saya lalu di suruh belajar. Saya pertama kali baca novel Agatha Christie ya dari novelnya ibu saya. Tante saya pun demikian. Demi mengejar beasiswa, berbagai macam buku dilahapnya. Ada satu lemari besar di rumah yang penuh oleh buku-buku tante saya. Tante saya lalu menikah dengan rekan sejawatnya ketika mengajar di sebuah Universitas, yang juga menyukai belajar dan membaca. Om saya ini bahkan rajin mengunjungi berbagai bookfair demi mendapatkan buku berkualitas dengan harga murah. Tapi beda kelas sih bacaan saya dengan bacaan om dan tante saya. *kebaca jelas nampaknya dari kalimat awal postingan ini* Adik saya juga termasuk penyuka membaca, walaupun idem sama saya, doyannya baca komik. Hahaha..

Dulu kalau pergi ke toko buku saya bebas memilih buku apa saja, berdasarkan budget mama saya tentunya. Begitupun tante saya, nggak pelit kalau beliin saya dan adik saya. Sering banget uang jajan saya tabung demi membeli buku-buku yang saya pingin. Saya inget, beli komik dari harganya 2800 sampe sekarang sebijinya ada yang 25000. Ampun itu komik dan buku-buku naik harganya bikin sakit kepala. Jaman saya kuliah, kalau ke bookfair sama sahabat-sahabat saya, bawa uang 200 ribu itu udah muntah-muntah istilahnya. Buku yang kita beli dapet banyaaak banget sampe kewalahan bawanya. Sekarang? Ampun deh, 200 ribu cuman dapet beberapa gelintir doang.

Beberapa buku-buku dari jaman saya kecil masih ada dan tersimpan rapi, beberapa sudah entah kemana. Saya bertekad, buku-buku milik saya harus bisa turun dan dibaca oleh anak-anak saya. Saya juga seneng banget sih beli buku dongeng anak-anak gitu, selain seneng bacanya, bisa buat bacaan anak-anak saya juga kan. *ngeles cantik :))

Saya beruntung menikah dan bersuamikan seseorang yang juga suka membaca dan mengoleksi buku. Walau, lagi-lagi beda banget bacaan kangmas sama bacaan saya. Bacaan saya mah super duper ceteeeekkkk, bacaan kangmas termasuk dalam jajaran bacaan bermutu dan membuka wawasan. Dulu saya pernah ngebatin, jangan sampe saya menikah sama orang yang nggak suka baca buku, apalagi sampe ngelarang saya beli buku. Alamaak, saya bakal tersiksa banget. Saya ada lihat salah satu kawan saya, penggila buku dan komik, lalu setelah menikah, pasangannya melarang buat ngebeli komik dan buku kesukaannya dengan alasan mubazir, lebih baik buat beli susu atau diapers. Saya nggak tau hatinya gimana aslinya, walau kelihatan banget dia berusaha baik-baik saja. Tapi kalo saya digituin, nggak bisa ngebayangin. Alhamdulillah Alloh sayang sekali sama saya, dikasihNya saya suami yang baik hati dan se-visi soal buku dan membaca. Furnitur yang pertama kali kami beli setelah menikah adalah rak buku. Abisan lemari buku saya udah nggak bisa menampung koleksi buku-buku kami. Sebentar lagi saya dan kangmas berencana pesan lemari buku, mudah-mudahan rezekinya segera ada. Aamiin... Suka sedih lihat buku bertebaran dan nggak kesimpen rapi..

Impian saya kalau nanti punya rumah sendiri, harus ada satu ruangan untuk perpustakaan pribadi yang cozy. Dan tekad saya, anak-anak saya juga harus bisa menyukai membaca dan mencintai buku. Buku adalah jendela dunia. Wahyu Alloh yang pertama kali di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca. Iqra'. Bacalah. Memang bukan hanya sekedar membaca, tapi membaca hal-hal yang bermanfaat, hal-hal yang menambah keilmuan dan keimanan, hal-hal yang membawa kebaikan. Dengan membaca Al-qur'an dan tafsirnya, saya yakin akan sangat menambah keimanan dan kecintaan kita kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Dengan membaca buku-buku ilmu pengetahuan, akan menambah wawasan, memberikan banyak hal yang baik untuk kehidupan. Kalo komik? Ada beberapa ilmu yang saya dapat bahkan dari sebuah komik atau sebuah novel, bukan dari buku pelajaran di sekolah. Serius. Tapi balik lagi ke jenis komik dan novelnya ya. Ada banyak juga komik dan novel yang nggak mendidik dan nggak baik untuk dibaca. Sebagai konsumen, sebagai orang tua, kita harus pintar-pintar memilih dan menyaring bacaan apa yang pantas kita baca dan anak-anak kita baca.

Banyak hal yang bisa di dapat dari kebiasaan membaca. Nggak perduli di cap nerd atau kutu buku. Yang suka ngecap macem-macem biasanya mah nggak ngerti manfaat dan kebaikan dalam sebuah buku dan kebiasaan membaca. Ada satu quote yang saya suka banget...

The more that you read, the more things you know.
The more that you learn, the more places you'll go.
-Dr. Seuss-

Jadi, nggak ada salahnya kan memulai sebuah kebiasaan baik?
Selamat membaca, semuanya... :)

Friday, October 17, 2014

Cake Pisang Kukus, Mudah dan Lezat

Nggak banget deh penampakan si kue pisang ini :))))

Beberapa waktu yang lalu, Alif dikasih pisang sesisir sama engkongnya. Lalu anaknya bosen, emaknya juga. Terus beberapa hari kemudian pisangnya udah mateng banget menjelang bonyok. Sayang, mubazir kalo kebuang. Dibikin smoothies, lagi males juga. *ishh males muluk nih*. Browsing ke web favorite saya, justtryantaste.com nemu resep cake pisang yang dikukus dan tanpa mikser. Cek bahan-bahan, nyaris komplit. Ihhiiiy.... Pucuk dicinta ulam tiba. Pas si bocah lagi boci langsung di eksekusi. Gampil banget, cepet bikinnya. Aduk-aduk, masukin kukusan, tinggalin instagraman, whatsappan, mandi, sholat tau-tau mateng. Resep di bawah ini hasil saya modif ya. Aslinya make yogurt, tapi saya skip. Lalu saya nggak make chocochips kaena dirumah nggak ada, jadi saya pakein meises. Tetep lezat dan menggiurkan hasilnya walau tampilannya agak nggak meyakinkan dan eksotis. Hahahaha... Lalu margarin / mentega saya pake dikit aja, saya campur pakai minyak. Hasilnya lebih moist dan lembut. Alhamdulillaah ludes dan pada doyan. Berikut resepnya yang udah saya modif dikit yaaa...

Cake Kukus Pisang


Bahan :
- 250 gram pisang ambon, haluskan dengan garpu. (saya pakai 3 buah pisang)
- 220 gram tepung terigu serbaguna 
- 2 sendok teh baking powder double acting
- 1 sendok teh baking soda
- 1/2 sendok teh garam
- 200 gram gula pasir
- 100 ml susu cair
- 1/2 sendok teh vanili bubuk
- 3 butir telur ayam, kocok lepas
- 30 ml mentega cair  + 70 ml minyak sayur (bisa diganti canola oil atau grapeseed oil agar lebih sehat)
- Meises secukupnya


Cara membuat :
1. Panaskan dandang / kukusan.
1. Siapkan loyang, olesi dengan mentega dan taburi terigu. Sisihkan.
2. Dalam mangkuk, ayak dan campur tepung terigu, baking soda, baking powder dan garam. Sisihkan.
3. Siapkan mangkuk besar, masukkan pisang yang sudah di lumat, lalu tambahkan ayakan tepung terigu. Aduk rata menggunakan spatula.
4. Tambahkan vanili dan gula pasir, aduk.
5. Masukkan kocokan telur dan susu, aduk seperlunya agar tercampur rata.
6. Tuangkan mentega cair dan minyak. Aduk hingga tercampur rata.
7. Masukkan meises, aduk seperlunya hingga tercampur.
8. Tuang adonan ke dalam loyang yang telah disiapkan lalu masukkan ke dalam kukusan yang telah dipanaskan hingga airnya mendidih.
9. Kukus dengan api sedang selama minimal 50 menit. Setelah lebih dari 50 menit test cake dengan lidi. Kalau tidak ada adonan yang menempel, angkat cake lalu dinginkan sebentar.
10. Balikkan cake, tunggu sampai dingin sebelum di potong-potong.


Catatan dan tips dari justtryandtaste tentang cake kukus tanpa mikser :
- Pastikan baking powder dan baking soda fresh, agar kue mengembang dengan baik.
- Selalu panaskan kukusan hingga air mendidih, agar suhu terjaga dan panas kukusan stabil.
- Tutup permukaan kukusan / tutup kukusan dengan lap bersih untuk mencegah air menetes ke dalam kue. Pastikan menutup kukusan dengan rapat.
- Isi air kukusan hingga hampir menyentuh kawat saringan lalu jangan membuka-buka kukusan selama proses pengukusan, terutama cake yang bahannya tidak di mikser. Membuka kukusan menyebabkan panas dalam kukusan berkurang dan akan membuat cake menjadi tidak mengembang.
- Untuk cake tanpa mikser, aduk adonan secukupnya saja dan agar tercampur, jangan berlebihan,

Untuk tips sukses mengukus kue lainnya dari jtt bisa klik disini.

Tuesday, October 14, 2014

Metamorfosa :)

Saya tuh tomboy. Asli. Nggak ada yang percaya ya? Yaaa begitulah wanita, bisa ber-metamorfosa demi sebuah predikat cantik. Buahahahaa.... Serius, pernah tau kan kalimat beauty is pain? That's really true. Buat jadi sedikit lebih perempuan bagi saya perjuangan banget. Belajar make heels, belajar make rok biar nggak keserimpet, sampe belajar dandan. Tapi lama-lama enjoy aja, malah nagih. Semacam karma kali ya, saya yang tadinya males banget dandan atau make sepatu perempuan, sekarang malah nyandu. Bukan nyandu dalem arti kudu harus, tapi demen gitu deh. Sulit diungkapkan dengan kata-kata :))))

Waktu kecil mah saya pasrah aja dipakein baju apa aja sama mama saya, dan sebagai anak perempuan pastinya dong dibeliin baju rok, renda-renda bunga-bunga warna pink warna soft pastel kaos kaki renda-renda sepatu pantovel. Masuk esde mulai demennya make celana walau rambut masih demen dikuncir terus pake aneka pita dan bando. Tapi anak esde jaman saya dulu nggak ada yang dandan kayak anak esde jaman sekarang. Bedaknya cuman bedak bayi pas abis mandi, pulang sekolah mah item dekil beminyak bau matahari. 

Jaman esempe karena masuk boarding school mau nggak mau harus akrab sama rok, tapi tetep saya lebih milih kulot dan kemeja cowok daripada rok. Make rok cuma  kalo sekolah sama keluar kompleks. Sepatu makenya sepatu keds. Biar kata make rok tetep, sepatu kets. Sendal? Kalo nggak sendal jepit ya sendal gunung. Perabot lenong? Nggak ada. Cuman sabun mandi sabun muka sampo lotion sesekali minta temen, bedak bayik buat muka sama cologne. Mulai naksir cowok tapi masih cuek sama muke yang item dekil kumel.

Esema, masih di boarding school. Makin gede, racun makin banyak, apalagi diem-diem udah mulai punya pacar. Nyahahaha... Mulai make kondisioner, mulai nyobain luluran walau lulur yang praktis itu dan di pake rame-rame. Abis mandi mulai pake lotion walau sering lupnaya, muka make pelembab, bibir mulai pake lipbalm. Bedak? Tetep, bedak bayik. Tetep pake cologne. Mulai ikutan pake masker kalo lagi ada yang maskeran. Mulai make hairtonic. Mulai melek model baju walo dipakenya jugak cuman bisa pas liburan doang. Tapi tetep, demennya make celana sama jeans. Hahahaha.... Esema jaman saya, make lipbalm aja udah di anggep centil, padahal tanpa warna. Kalo anak jaman sekarang, oemjiii.... Mukenye dempulan semua. Alas kaki saya? Tetep sepatu kets dan sendal gunung. Nggak kenal heels. Make heels cuman pas wisuda lulus kelas 3 esemu, karena make kain jarit jugak nggak lucu kalo nggak make heels. Dibeliin heels sama mama saya, setinggi 7cm. Jadi pertama kali make heels, langsung 7cm dan wisuda, dan muter foto-foto, akibatnya kaki saya sakit bener malamnya.
Masuk kuliah, kebanyak bergaul sama anak cowok dan anak cewek yang cuek bebek plus cewek-cewek yang dandan itu kebanyakan rada rempong menurut saya. Keluar kampus aja make payung. Di toilet rame bener touch up sambil ngerumpi. Saya juga suka touch up sih, benerin jilbab doang. Ude gitu ude, cusss kabur lagi. Jadi saya masih belum terlalu tertarik buat jadi perempuan. Walau, udah mulai make baju yang agak feminim, lipbalm mulai yang ada warna naturalnya, mulai nyobain bedak padat dan nggak make bedak bayik lagi, mulai make parfum. Ini akibat mama saya juga sih, jualan perabotan lenong dan beauty things gitu. Saya kan jadi penasaran pengen nyobain. Mana dikasi geretongan mulu. Mulai make sepatu pantofel, tapi pas di lab psikologi aja sih. Sisanya converse all day loooong. Lol.

Mulai semester 4 apa ya, saya mulai belajar make heels. Dari yang pendek dulu, 3 cm, naik ke 5 cm, lalu 7cm. Gara-garanya sepele, mantan patjar saya demen cewek feminim. Berniat untuk revenge dan membuat dia menyesal, saya belajar feminim. Nyahahahaha... Cetek bener deh otak saya. But it works. Ketika saya udah punya pacar lagi dan mantan saya bilang nyesel mutusin saya apalagi katanya saya tambah cantik dan feminim, dendam saya sama si mantan hilang begitu saja. Ketika itu saya nggak serta merta berubah macem sailormoon gitu sih, nggak langsung jadi demen ngelenong jugak, cuman mulai lebih perempuan lah istilahnya. Apalagi kemudian saya bertemu sahabat-sahabat yang luar biasa.

Saya dan sahabat-sahabat saya ini, klop dalam banyak hal. Kami bisa cuek nggak dandan lalu keluar masuk loakan nyari buku-buku bekas, bisa juga dandan cantik tipis-tipis bermodal two way cake dan lisptik lalu pakai rok dan heels untuk role play di kelas Pauli lalu pulangnya ngejar patas dengan cueknya untuk sekedar makan kfc paket murah di atrium. Sahabat-sahabat saya ini bisa jadi manusia-manusia paling cuek, bisa juga jadi manusia-manusia paling perhatian. Bersama mereka, saya bisa jadi tomboy, tapi juga bisa jadi feminim. Saya mulai nggak antipati sama pink, mulai suka bunga-bunga dan warna pastel lagi, malahan saya seneng ngedesain kebaya dan make baju model babydoll lagi kayak jaman masih kecil dulu. Mungkin memang selalu ada sisi feminim yang tersembunyi pada setiap wanita. Ciyeeeeehhhh.... Sok wise nih ;p

Kemudian saya belajar make rok lagi, make kain, belajar merawat diri, demi diri saya sendiri pada akhirnya. Saya ingin jadi orang yang bisa memantaskan diri. Belajar dandan juga saya belajar sendiri, lihat-lihat majalah, lalu dandanin sahabat-sahabat saya. Make up toolsnya suka ngambilin jualan mama saya, kadang dikasih gratisan. Dandannya mah biasa aja, cuman biar nggak polosan banget kalo ke kondangan. Saya juga lalu belajar kreasi hijab, cuman biar saya nggak perlu ke salon kalo mau kondangan. Belajarnya juga sendiri, lihat buku, cari di google. Mulai dari pake foundie sama bedak doang, lanjut pake blush on, lanjut belajar eyeshadow. Setelah bisa belajar pakai maskara, belajar pakai eyeliner. Alhamdulillaah, saya bisa dandanin mama saya, ii saya. Bisa dandanin sahabat saya waktu pre-wedding. Bisa dandan sendiri dan dandanin sahabat saya ketika lamaran. Yang paling menyenangkan, saya dandan dan kreasi hijab sendiri ketika wisuda... :)

Kalo sekarang entah kenapa saya pengen belajar make up lebih dalam lagi, karena penasaran aja. Dan pernah terbersit untuk freelance make up-in orang biar saya nggak nganggur banget gitu. Tapi masih saya pendam, soalnya kalo mau profesional, saya harus belajar lagi, seenggaknya kursus soalnya nggak sanggup kayaknya kalo sekolah di puspita martha. Tanggung jawabnya gede soalnya. Salah ngegambar alis, muka orang bisa berubah. Salah shading, malah gagal kelihatan tirusnya. Untuk sekarang, belajar-belajar dari youtube aja dulu, sama pake perabot lenong yang terjangkau kantong.

Jadi inti postingannya apa? Mungkin, segala sesuatu itu pasti melalui proses. Proses belajar. Proses mematangkan diri. Setiap orang pasti bisa berubah. Nggak selamanya tomboy. Nggak selamanya feminim. Perubahan, kalau memang untuk sesuatu yang lebih baik kenapa nggak. Ya kan?

Sekian dulu babbling kali ini... Mungkin nanti saya mau posting foto saya dari jaman esde sampe kuliah. hihihi.... See you peeps.. :)

Thursday, October 02, 2014

22 Bulan, Mendekati 2 Tahun

Hampir dua tahun, dan saya masih nggak nyangka si bayi kecil udah mau dua tahun. Makin pinter, makin lucu, dan nggemesin, dan mendekati dua tahun kelakuannya makin ajaib. Hihihihi....

Perkembangan di 22 bulan ini, alhamdulillaah skor Kpsp 21 bulannya udah 10. Selain itu, yang paling kelihatan adalah perkembangan bahasanya. Kosakata yang di ucapkan bertambah, walau masih ujung-ujungnya aja dan babbling juga. Tapi alhamdulillaah, bener-bener udah bertambah. Antara lain, yayam [ayam], bibik [bebek], aikk [naik], nunum [minum], atuk [satu, atuk], bubu' [bobo, obok-obok], dudu' [duduk], nuuhh [penuh], awa [pesawat], etaaa [kereta], ainn [main], nunnn [huruf hijaiyah nun], amm [om], naang / nahhh [om nang], api [sapi, davi], dudung [kerudung], nana [celana], gigi, dan lain-lain... Kalo lagi lihat video lagu, ada kata-kata yang mulai di tiruin sedikit-sedikit, walu memang masih ujungnya aja. Ada yang lucu, waktu awal-awal babbling alif suka nyebut kepekkaahh kepekkaah. Saya nggak ngeh kepekkah itu apa. Dipikiriiin, tapi nggak ketemu-ketemu. Suatu waktu, abahnya beli es buah, terus Alif disuapin. Biasa kan kalo sambil disuapin sambil dikasih tau ini apa, itu apa, jadi dikasih tau, semangka, pear, apel, alpukat. Setelah abahnya bilang alpukat, Alif nyebut kepekkkaahh kepekkaah dan minta suap lagi. Eaaaa.... kepekkkah itu ternyata alpukat. Lumayan jauh ya nak melesetnya :)))))

Satu lagi, yang ditunggu-tunggu sama neneknya akhirnya terucap juga sama Alif. Akhirnya Alif bisa juga manggil nenek, walau bunyinya ninik dan enik, bukannya nenek atau enek. Si mamah seneng luar biasa... Akhirnya Alif bisa manggil nenek juga. Kalo bangun tidur dan abahnya udah berangkat, pasti nyariinnya enek. Langsung ke kamar neneknya atau ke dapur sambil teriak panggil-panggil niiikkk... Eniiikkk.... Kalo manggil emaknya mah masih nggak jelas, kadang uddda, kadang dddaaa, kadang adddaa. Hahahaa... biarlah, spelling bunda memang rada susah kok. *menghibur diri sendiri* Yang lucu kalo pas saya manggil kangmas yang, si Alif ikut-ikutan nyebut-nyebut yaaang... yayaaanggg... Atau saya manggil mama / papa, ikutan dia mamaahh.. papah.... Suka saya tanyain, mamanya siapa nak? Lalu mukanya bengong. Atau kalo ditanya, Alif maunya apa? Di ulang-ulang deh, apa apa papapapa. Kalo saya bilang tholeee, tholeee.. Di ulangin lagi, yeee... yeee.... -______-'

Alif sekarang juga lagi seneng nyebut angka dua. Apa-apa dua. ada kucing di depan rumah, teriak-teriak dduaaa dduaaa... Minta kerupuk, duaaa.. dua.... Ayam di utan kayu juga dibilang ddduuaaa... Plus lagi hobi niruin bagian belakang kalimat. Jadi kalo di tanya, Alif akan jawab dengan kata terakhir. Misalnya. "Alif mau makan ayam apa bebek?" "bibik.." "Alif mau nasi apa kue?" "Uweehh" "Mau kue apa nasi?" "Ciiii..." "Habis mimi' terus bobo ya?" "Iya." "Alif mau susu nggak?" "Gak..". Jadi kalo mau nawarin sesuatu ke Alif jangan pake nggak belakangnya, pasti di jawab nggak.Dan jangan berbesar hati kalo Alif nge-iya-in. Suka Php dia, asal aja bilang iya-nya. Hahahaha....

Apalagi ya?

Hmmmm.... Sekarang udah susah di dudukin di high chairnya, sukanya duduk sendiri di kursi orang dewasa. Susah disuapin, maunya makan sendiri. Terus kalo dikasih minum refleknya bilang dudu' sambil dianya duduk ngedeleprok dan puk-puk ubin terus mau minum sendiri. Well, part numpahin airnya sih masih. Jadi antisipasinya kalo minum pasti saya tungguin dan kalo ngak habis-habis saya yang ngabisin. 

Soal makan dan main, entah kenapa Alif refleknya masih tangan kiri nih. Apa-apa cepet banget kalo pake tangan kiri. Pake tangan kanan sih bisa, tapi harus di ingetin dulu dan nggak selihai yang kanan. Apa Alif ada bakat kidal ya? Kalaupun ada bakat kidal, yang penting selalu dibiasakan menggunakan tangan kanan dan emaknya nggak boleh lupa ngingetin dan ngajarin pelan-pelan pakai tangan kanan.

Makin gede,  makin kolokan. Makin susah ditingganya. Past ngintilin dan mau ikut. Nggak bisa lihat saya rapi pakai kerudung, pasti ngajakin pergi. Kalo ditinggal pasti nangis dan teriak udddaaa udddaaa... Kayak di apain aja. Kalo ditinggalin abahnya juga gitu, nangis kejer panggil-panggil abah, kayak habis dianiaya. Sedih banget nangisnya, jadi nggak tega kan. Jadi sekarang kalo mau pergi ngumpet-ngumpet. Kelamaaan pergi pasti nyaiin di setiap sudut umah dan kamar sampe ke kamar mandi, kalo nggak nemu emaknya maka langsung nangiiisss... Kalo emaknya bilang mau pergi pasti dikejar dan panggil-panggil. Duh naakk... Gimana kalo punya adek ntar.... :D

Sebentar lagi mau disapih, malah makin kenceng nenennya. Kalo dibilang nanti dulu atau nggak boleh langsung nangis kejer, atau mencak-mencak, atau malah ngamuk mukulin saya. Makin gede, makin gampang tantrum. Kalo dilarang apa gitu, nggak bisa dikerasin langsung. Harus dialihin dan dirayu pelan-pelan. Kalo udah ada maunya, kekekuh. Kalo nagmuk suka lempar-lempar, banting-banting, terus nangis. Nggak parah sih tantrumnya, tapi kalo dibiarin bisa kebawa sampe gede. Saya masih belajar gimana biar Alif mau berenti banting-banting barang. Kadang dia banting barang gara-gara seneng sama bunyinya atau seneng mau bongkar pasang karena abis dibanting dia ketawa-ketawa atau berusaha nyatuin barang / mainannya dan kalo nggak bisa tetep sih dilempar lagi. *sigh* Kalo lagi main apa gitu terus nggak bisa, pasti teriak atau diuwar-uwar mainannya. Geregetan sendii kayaknya kalo nggak bisa, tapi jadinya kesel terus begitu deh kelakuannya. Jadi kalo main, saya nggak bisa nyambi. Harus ditemenin, di ajarin kalo nggak bisa sambil dikasih afirmasi kalimat positif supaya nggak gampang marah dan menyerah. Insya Allah pasti bisa. Semangaaattt!!!

Alif kalo sama buku seneng, alhamdulilllah. Walau belum betah banget dibacain panjang-panjang. Dia lebih tertarik tunjuk-tunjuk ganbarnya tanya ini apa itu apa. Dibeliin buku mewarnai dan pensil warna juga belum tertarik, pensilnya malah di buka tutup keluar masuk sampe tempatnya robek. Dibelikan puzzle binatang dari kayu juga masih belum telaten, kalo nggak pas pas teriak dan minta bantuin pasang. Mungkin harus pelan-pelan dan dengan potongan yang lebih besar puzzlenya. Alif juga paling seneng sama balon, yang disebutnya pecah pecah. Neneknya juga seneng beliin balon ae. Ituh, balon yang ada bunyinya kalo di pencet-pencet. Berisik sih suaranya kan kenceng gitu. Tapi neneknya seneng, cucunya seneng. Ya sudah lah ya, walau emaknya jadi tukan tiup seringnya kalo balonnya kempes atau pecah. Hahahahaha.....

Toilet training? 
Alif belum mulai... Emaknya belum siap mental dan anaknya pun masih belum terlalu ngeh. Suka bilang pipis sambil pegang bagian kemaluannya, tapi nggak kunjung pipis dan cuma main-main. Suka bilang pupup kalo pupupnya udah selesai. Mudah-mudahan kemalasan emaknya nggak berlanjut dan Alifnya juga segera siap untuk toilet training. Target? Nggak ada, kalo di tagetin bisa setres emaknya. Hahaha....

Baiklaahh... Sekian dulu report milestone anak ganteng kesayangan... Semoga makin pintar dan sholih. Aamiiinnn....