Saturday, June 01, 2013

Ayunan Untuk Nenek

Saya dari kecil tergila-gila sama ayunan. Waktu TK mainan favorite saya ayunan. Tiap main ke rumah cipayung pasti minta main ayunan. Semacam ada kesenangan tersendiri ketika terayun tinggi dan angin menerpa wajah saya. Ada kebanggan tersendiri bisa mengayun ayunan sampai tinggi tanpa bantuan orang lain. Semacem ego bocah ingusan begitulah :D

Ayunan kedemenan jaman bocah model kayak begini. Borrowed pic from here

Makin besar makin jarang main ayunan, jadi pas ngeliat ada ayunan di halaman belakang rumah teman jadi langsung berhasrat dan bercita-cita untuk punya ayunan di rumah. Bukan ayunan bocah yang bisa di ayun tinggi itu, tapi ayunan kayu bentuk kursi yang ada atapnya gitu, buat santai-santai sama keluarga.

Ketika almarhumah nenek saya kepingin lahan di depan rumah itu di pagar, saya langsung bilang kalau nanti saya mau beli ayunan buat nenek. Nenek saya tanya, buat apa saya beli ayunan? Saya bilang, saya suka ngenes kalo ngeliat nenek saya duduk ngedeleprok di tangga rumahnya nenek nani [tetangga] sambil ngobrol gitu. Saya beli ayunan biar kalo sore-sore, nenek bisa duduk-duduk di ayunan sama nenek nani, sama umi kak sifa, sama tetangga sebelah, sambil ngobrol dan ngeteh. Nanti mama saya yang bikinin cemilannya. Jadi nenek nggak perlu nenangga terus ngedeleprok duduk ngobrol. Plus seneng juga kan ya namanya nenek-nenek kalo lagi ngumpul ngeriung sore-sore gitu, rame. Saat itu nenek saya cuman ketawa-ketawa dan bilang nanti ayunannya dimainin sama bocah tetangga. Saya bilang, kalo lagi nggak dipake nenek ayunannya boleh aja dimainin sama bocah tetangga. Nanti saya juga pengen beli perosotan kecil, buat bocah-bocah tetangga pada main, secara saya juga demen main perosotan. Tapi yang penting tanahnya di pagerin aja dulu.

Kepingin ayunan kayu seperti ini untuk nenek. Pic source here.

Waktu terus berjalan, berbagai usaha mama saya untuk mendirikan pagar di tanah tersebut terus saja di jegal orang-orang. Entah, saya nggak habis pikir. Itu tanah milik nenek saya, bersertifikat, bukan girik atau verponding, yang bayar PBB tiap tahun mama saya, hanya karena bertahun-tahun dibiarkan terbuka dan dipake begitu aja sama segelintir orang, bukan berarti tanah tersebut berubah kepemilikan menjadi lahan publik. Nenek saya berhak melakukan apa saja terhadap tanah tersebut, termasuk untuk mendirikan pagar. Herannya selaluuuu saja di jegal dengan berbagai macam cara dan alasan. Terakhir ketika saya akan menikah dan mengadakan resepsi di rumah, nenek ingin tanah tersebut udah di pasang pagar biar nggak ngeganggu jalannya orang-orang, tapi terjegal terus.

Saya nggak akan pernah bisa menghilangkan raut sakit hati nenek dari ingatan saya ketika usaha mama memperjuangkan hak nenek dijegal. Saya nggak akan pernah melupakan ekspresi nenek ketika berujar lirih ke saya setelah pejabat berwenang yang sudah memberikan izin tiba-tiba datang dan menghalangi pendirian pagar. Nenek bilang, "Kak, kalo tanah depan nggak dipakein pagar, terus mau taruh yunan-yunannya dimana? Nggak jadi ya beli yunan-yunannya?" Saya cuma bisa menenangkan dan bilang insya Allah bentar lagi pagarnya berdiri. Saya juga bilang saya udah survey harga ayunan, modelnya kayak gimana dan tinggal pesen. Terserah nenek mau ayunan yang kayak gimana dan taruhnya di sebelah mana. Pokoknya begitu pagar di proses, ayunan saya pesan. Nenek pun akhirnya tersenyum. Mungkin hanya untuk menyenangkan saya, melihat bertahun-tahun saya kekeuh sumekeuh ingin pagar berdiri agar bisa taruh ayunan untuk nenek.

Kemudian saya menikah, datang ramadhan, datang idul fithri, datang musim haji, nenek saya pergi menunaikan ibadah haji, dan Allah berkehendak nenek nggak pulang lagi ke tanah air selamanya. Allah begitu sayang sama nenek, nggak dibiarin nenek sakit hati dan sedih terus-terusan melihat haknya di zholimi orang lain. Nenek saya diberikan rumah peristirahatan terakhir di tanah haram, tanah impian jutaan umat muslim. 

Janji saya ke nenek, untuk membelikannya sebuah ayunan untuk bersantai belum terpenuhi karena segelintir orang tak bermoral dan beretika. Jangan tanya perasaan saya, sakit bukan kepalang, sedih bukan main. Kenapa sulit sekali mendapatkan apa yang seharusnya sudah menjadi hak nenek saya. Kenapa sebuah ayunan saja tidak bisa saya berikan untuk nenek semasa dia hidup. Sekarang saya tidak akan pernah melihat senyuman nenek saya lagi, tidak akan pernah melihatnya duduk di ayunan di depan sambil bercengkrama dengan nenek-nenek yang lain.

Mungkin saya memang belum sempet membelikan ayunan untuk nenek, tapi saya yakin, Allah tidak tidur. Allah tau mana yang haq dan mana yang bathil. Doa saya, semoga Allah membangunkan sebuah rumah dengan halaman luas berpagar cantik untuk nenek di SyurgaNya kelak, dengan ayunan di halamannya, untuk nenek bersantai dan berkumpul dengan orang-orang yang nenek saya cintai. Aamiin Ya Robba 'aalamiin...