Thursday, March 29, 2012

Kenangan Tentang Melati

Segelintir melati yang berbunga di teras
Sendirian di kamar karena kangmas terancam nggak pulang, masang aromatherapy jasmine yang saya beli iseng-iseng atas nama penasaran waktu pacaran minggu lalu. Wangi ini... Wangi yang biasa saya hirup berbulan-bulan lalu, ketika nenek saya masih ada dan pohon-pohon melati di depan rumah masih menghasilkan bunga yang bikin ruang tamu selalu harum dan nenek saya kegirangan merangkainya. 
Sebelum saya menikah, pagar rumah saya nggak bisa di geser, stuck dengan deretan pepohonan yang bersandar kesana dan tumbuh melebihi pagar itu sendiri. Salah satunya adalah pohon melati, yang potnya sampai pecah hingga berakar jauh ke tanah menembus lantai semen dibawahnya dan tumbuh menjulang merimbuni pagar dengan hijau daunnya. Pohon yang nggak berenti berbunga dan menghantar bau yang bersaing dengan bau kemuning di ujung satunya. Almarhumah nenek saya dengan setia setiap malam memetiki bunganya, bahkan sampai naik-naik kursi dan menarik-narik dengan sejenis kaitan khusus kalau saya nggak membantunya memetik. Hujan nggak bikin nenek saya berenti metik, beliau selalu begitu bahagia memetik melati yang saking banyaknya walau udah dipetikin masih aja ada yang berjatuhan layu nggak kepetik. Setelah dipetik, nenek akan merangkai bunga-bunga tersebut, sambil nonton sinetron, nungguin saya atau mama pulang, nungguin telpon dari ii atau nang, bahkan hingga larut malam. Melati tersebut di tusuk di batang-batang yang kering, bervariasi dengan batang baru berdaun dan berbunga melati yang mekar, di taruh di gelas aqua bekas, [atau apa saya yang bekas] yang di isi air, dan di taruh di meja tamu.  Wanginya selalu menyebar, dan saya suka. Tanpa kesan mistis. Beberapa kuntum yang tak terangkai sering dibawa ke kamarnya. Harum. Ketika melati-melati tersebut kering, nenek sering mencampurnya di seduhan teh daun, aromanya yang alami menguar lezat membuat saya lupa tentang apa itu teh celup. 
Menjelang saya menikah pagar dibenerin, dan pohon-pohon tersebut harus di pindah ke pot-pot besar dan di taruh di belakang dekat dapur. Rupanya tak lagi besar dan rimbun, bahkan sempat layu karena harus beradaptasi dengan pot baru dan akarnya yang tertanam ke tanah nggak semuanya bisa keambil. Nenek saya sedih. Sedikit ngambek. Karena nggak ada lagi rimbun melati untuk di petik dan di rangkai setiap malam. Melati yang ada di teras jarang berbunga, mungkin merasa tersaing dengan melati di pagar. Kalaupun berbunga hanya satu-dua, tidak rimbun. Saya dan mama berusaha membuat pohon-pohon tersebut berbunga rimbun lagi, termasuk menyiramnya setiap hari dengan air bekas cucian beras. Tapi nihil. Hingga nenek saya berangkat haji, dan kemudian nggak pulang lagi ke rumah ini, pohon melati yang  kini pindah ke belakang dan yang di teras hanya berbunga sesekali. Bahkan beberapa waktu setelah nenek nggak ada pohon-pohon melati tersebut layu dan kena kutu sampai harus di botakin semua daunnya. Saya yakin pohon-pohon melati juga merasa kehilangan nenek. Bahkan sampai sekarang yang di belakang masih belum mau berbunga lagi walau daunnya sudah mulai banyak. 
Wangi aromatherapy yang menguar di kamar ini membuat saya terdampar di bilik rindu, tentang nenek. Dan bunga melati kesayangannya.....

0 comments:

Post a Comment