Wednesday, February 29, 2012

Time flies

Hari ini 29 februari, 4 tahun lagi baru muncul lagi nih tanggal. 4 tahun tuh lama ya. Kalo bayi udah jadi balita yang siap masuk sekolah tuh. He...
Time flies... And everybody's changing.
Saya belum lupa rasanya berebutan beli textbook murah di depan kampus. Antri fotokopi menjelang ujian. Ngehampar di basemen nunggu kuliah selanjutnya. Kalang kabut ngetik paper, dengan disket yang bolak-balik kena virus. Nyetanin sahabat-sahabat saya buat kabur ke toko buku. Terus umpel-umpelan foto box. Ngehemat belanja di toko buku biar bisa puas belanja di book fair. Kalap sampe nungging-nungging ngoprek tumpukan komik yang berakibat ngehemat jajan buat sebulan kedepan. Tawaf muterin mall sampe gempor padahal yang dibeli cuman baju sepotong, diskonan pulak. Bela-belain begadang nonton bola, terus kesiangan kuliah yang berujung minta absenin. Diliatin aneh sama tukang koran karena yang dibeli adalah kombinasi nggak umum: Koran Slank, Majalah Spice, Topskor. 
Kayaknya baru kemarin. Sekarang, dua dari sahabat saya udah jadi istri dan ibu. Saya juga udah nggak single lagi. Tinggal satu sahabat saya yang masih single, dan dua lagi sahabat saya yang masih terjebak di zona galau macem abg [semoga mereka lekas kembali ke jalan yang benar.]
4 tahun lalu saya dan sahabat-sahabat saya masih sibuk eksis nyobain photo booth mall to mall. Sekarang, paling banter foto pake digicam dan hape. 4 tahun lalu selalu nyempetin buat dateng ke book fair. Sekarang nyari waktu yang pas aja susah banget. 4 tahun lalu tiada hari tanpa heels, tawaf di mall pake 7cm pun masih sanggup. Sekarang heels saya cuman buat kondangan. Ngeliatnya siy lucu banget, hawanya juga napsuin pengen beli mulu. Tapi kok makenya males ya. Saya kangen masa-masa itu. Rasanya walau dompet cuman berisi sepuluh ribu, nggak ada beban hidup. Sekarang liat saldo udah dibates minimal aja udah harus make kacamata kuda dan itung-itungan kalo belanja bulanan.
Time flies. Everybody's changing. Our perception and main priority changes also. But our relationship, [hopefully] stay the same.
Our 1st photo studio session, Shanty Birthday. Oct 2005
Kalo kata indah, ini kayak foto sekte pemujaan -__-' ---> Jan 2006
Bright Yellow... Paling suka foto ini. Aug 2006
2007, between Jan-March 
Look at to our heels..... March 2008
Gate opened. One of us engagement. May 2009
We look depressed, aren't we? @Nav Kelapa Gading, Martina birthday. March 2010
July 2011, My wedding
Feb 2012. Indah Engagement
Saya, Riza, Indah, dan Rini di perpustakaan kampus. Bukan bikin skripsi, tapi foto-foto.
Kado ulang tahun Indah
Lagi hobi foto-foto. 
"Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini"
-Ingatlah hari ini, Project Pop-

"Bersenang-senanglah, kar'na waktu ini yang kan kita banggakan. Di hari tua..."
-Sebuah Kisah Klasik, SO7-

MidNite Posting about #suami [CoPas]

Picture taken from here
Lagi iseng twitteran sambil nemenin kangmas maen football manager, eh salah satu penulis favorite yang ngarang Gege mencari cinta dan Jomblo, Adhitya Mulya ngetwit tentang #suami. Langsung deh mantengin timelinenya. Menurut saya, keren pemikiran dan cara pandangnya dia tentang suami dan istri. Perlu banget dibaca sama para laki-laki, yang udah jadi suami maupun masih calon suami. Para perempuan juga perlu baca. Basically, we need someone who loves us just the way we are, even when we're getting fat, and ugly. We love someone who treats us well. Dalam Islam, kedudukan seorang istri sangat dimuliakan.
Ini twit-twitnya saya copas, soalnya menurut saya bagus banget. Selain saya setuju sama pemikiran beliau ini, bisa buat bahan renungan juga. Salah satu part yang paling saya suka, "good husband treats their children well, but treat their wives even better. They deserve your best." Kalo saya jadi teh Ninit, meleleh maksimal bacanya. Sama yang ini "We don't ask for our children. But Husbands ask their wives to trust him at ijab qabul, for life". It's so damn true. Tapi semuanya balik lagi ke pemikiran dan cara pandang individual ya. Masing-masing orang kan persepsinya beda :)
Note: Inih sebenernya twitnya ada beberapa yang typo, tapi nggak saya benerin. Biar kesannya original. Lagian pada ngerti jugak maksudnya. He.... ;p
  • Banyak suami yg nuntut istrinya tetap seksi dan bugar. Takutnya kalo nggak, bisa lirik daun muda. Tapi berapa byk suami yg sadar bhw..#suami
  • If we husbands, deserve a sexy wife, doesn't our wives deserve a sexy husband? kta minta dia diet fitness, etc eh perut kita jgn buncit juga
  • Remember that she bore children for us. Women post labour, has what we call baby weight. Kita jg kudu sabar sampe baby weight itu ilang.
  • We tell our wives to look beautiful. Does she not deserve a good looking husband, too? #suami
  • Some husbands thinks that sexy n beautiful women is their right. Beberapa lupa istri bisa juga ninggalin suami for d same reason, kalo nekat
  • Some husbands buy assets under his name. We tend to forget tt wives outlives husbands 9yrs. Kasian istri udah tua msh kena pajak balik nama.
  • Beberapa temen laki gue, cuman punya 1 rumah under his name. The rest of assets, langsung atas nama istri. Biar gak repot kalo meninggal.
  • Resikonya cuman satu, sekali cerai, suami adi gembel wakakakak. Tapi itu wujud tanggung jawab juga sih.
  • Ada beberapa cara istri dipandang suami. Pendukung rumah tangga dgn suami sbg kepala, or lifetime partner. Keduanya gak salah.
  • Cuman ya, it makes better sense to view our spouses as lifetime partner. Kenapa? Gue punya cerita..
  • Most of us, mementingkan anak dari istri. Istri juga sering mementingkan anak dari suami. Kalo ada rejeki, yg pertama dicukupkan pasti anak.
  • Salah? Itu bener banget. But some of us sometimes forget that our spouse is as important as our children. #suami
  • Remember: our children love us no matter what. They didnt choose their parents. My wife? She chose me over 1000 men. See d difference rite?
  • good husband treats their children well, but treat their wives even better. They deserve your best. #suami
  • We don't ask for our children. But Husbands ask their wives to trust him at ijab qabul, for life. Mereka mau lho. Itu gede banget artinya.
  • "Kamu mau ya sama saya percaya sama saya seumur idup Follow me for d rest of your life. Trust me" "I do" u hv no idea btp berat utk percaya.
  • "Saya janji mencukupi kamu. Kemudian istri percaya, kemudian suami gagal mencukupi." Gimana perasaan istri yang udah percaya?#suami 
  • 1 hal trakhir ttg wives vs children. Children stay w/ us for 25 yrs. Abis itu mrk cabut. Wives, they stick w/ us. So make sure they love us.
  • Dan ini smua bkn teori yg bagus di atas kertas. People actually do it, u know. As in, some people do have these views and apply them. #suami
  • 'Saya kawin lagi krn istri pertama gak bisa kasih anak' dude, didn't u check first? U ASKED for her lho. Bukan dia ygminta2 dikawinin #suami  
  • 'Saya poligami krn takut zinah' well poligami sih boleh. Halal. Tapi lu ga takut istri lo bisa zinah juga?
  • @adwamia betul. Tapi pada dasarnya laki2 minta wanita percaya sama dia sebelum semua bisa dibuktikan, ya gak? Think about it. #suami
  • Again: this is not flowery words, good in theory. Some people actually apply this. Feel free to disagree tho.  #suami
  • Ada ksus temen gue, mamah muda, abis lahir langsung fitness, want to look sexy. Tapi ntah knp, ASInya jadi asem. Akhirnya anak minum sufor.
  • After that, I told my wife, "I will still love u even if u look like a whale. Lets just make sure our kids have enough ASI."  #suami
  • Dan anji itu gue tepati. 5.5 tahun istri menyusui 2 anak, never said'yre fat'.Toh ASI dgn sendirinya membakar lemak better than exercise kok
  • Ada temen yg planningnya mantep. Semua aset langsung atas nama istri. Begitu anak2 turns 17, pembelian aset lgs atas nama anak. #suami
  • Reason: dit, palingan gue mati duluan. Gak tega klo istri renta kudu urus balik nama. Pajak kan 5% dri value. Itu gede. Bener juga. #suami
  • Cuman ya itu, resikonya: kalo sampe cerai, temen gue praktis adi gembel tanpa aset. But that's him. Thinking ahead for his family. #suami
  • And yes, semua suami wajib thinks ahead. Berhasilnya nomor tiga. Yg penting foresight dan effort. Kalo gagal istri Inysa Allah ngerti.
  • 1 more thing abt children if we're a family of 4, better save money for 4. Jgn tabung semua u/ anak. Blm tentu anak kuat topang kita nanti.
  • Dan 4 itu termasuk utk istri. In case anak2 gak kuat topang istri setelah kita gak ada. #suami
  • Anyways... Thanks for listening guys. Remember these are practicals. Not theories. Some people apply these. I leared from them. Nite! #suami
Find adhitya mulya: @adhityamulya, suamigila.com.

Tuesday, February 28, 2012

Updated: Pendaftar berangkat bareng

Akhirnya ada jugak yang transfer ke rekening ini selaen saya. Hehe.... Bapak Lalang maulana, transfer Rp.300.000., atas nama beliau sendiri dan istri. Jadi alhamdulillah sampe saat ini (28/02) yang udah transfer dan konfirmasi untuk berangkat bareng adalah:
  1. Hafidz Aulia & Istri
  2. Lalang Maulana & Istri
Yang lain masih belum ada kabarnya lagi nih... :)
Oiya, sebagai info bagi Alas 02 Jabodetabek yang nggak dateng pada pertemuan tanggal 20 November 2011:
  • Alas 02 Jabodetabek merencanakan berangkat bareng-bareng dalam rangka reuni akbar di Solo. Reuni Insya Allah di adain pada tanggal 05-06 Mei 2012.
  • [Rencana] berangkatnya pada hari Jum'at, 04 Mei 2012.
  • Waktunya masih belum ditentukan, kemungkinan paling besar adalah after office hour.
  • [Rencananya] akan pesan bis, jadi kayak pulang konsul gitu.
  • Biaya perorang Rp.150.000., di transfer ke:
 Rekening a/n Rizqi Amalia . Alas 02 -----> Rizqi(spasi)Amalia(dot)Alas02
 Norek: 123-00-0607319-3 
Bank Mandiri KCP Jakarta Suprapto.
  • Kalo udah transfer, tolong konfirmasi ke saya ya. Bisa lewat sms atau via message facebook.Untuk detail keberangkatan, pemesanan bis, dan lainnya, bisa di tanyakan ke Lalang Maulana. Saya cuma nerimain dana dan ngelaporin aja yak. Hehe... *BigGrin*
Sekian laporan terbaru dari saya. Hayuk pada transfer dan dateng buat ngeramein reuni akbar. Kita kangen-kangenan dan seru-seruan :)

Saturday, February 25, 2012

All About Lovin' You


Emotionally video. Surprisingly ending. Meaningful lyrics. Great band. Love the video since the first time i've seen it at Mtv. Simply romantic, in Bon Jovi version. Wiki said that the video continues the story from Misunderstood video. To read wiki version, click here
My heart beat faster when i watch this. The flashback scene really touching. And the propose scene, very very unpredictable. One of the most romantic video and song, in my own version. Seriously, i'm melting.... 
And this the lyrics...

Looking at the pages of my life
Faded memories of me and you
Mistakes you know I've made a few
I took some shots and fell from time to time
Baby, you were there to pull me through
We've been around the block a time or two
I'm gonna lay it on the line
Ask me how we've come this far
The answer's written in my eyes

Chorus: 
Every time I look at you, baby, I see something new
That takes me higher than before and makes me want you more
I don't wanna sleep tonight, dreamin's just a waste of time
When I look at what my life's been comin' to
I'm all about lovin' you

I've lived, I've loved, I've lost, I've paid some dues, baby
We've been to hell and back again
Through it all you're always my best friend
For all the words I didn't say and all the things I didn't do
Tonight I'm gonna find a way

Chorus: 
Every time I look at you, baby, I see something new
That takes me higher than before and makes me want you more
I don't wanna sleep tonight, dreamin's just a waste of time
When I look at what my life's been comin' to
I'm all about lovin' you

You can take this world away
You're everything I am
Just read the lines upon my face
I'm all about lovin' you

Guitar Solo


Chorus: 
Every time I look at you, baby, I see something new
That takes me higher than before and makes me want you more
I don't wanna sleep tonight, dreamin's just a waste of time
When I look at what my life's been comin' to
I'm all about lovin' you

All about lovin' you 

(My) Radio Story

Akhirnya sore ini saya dengerin radio lagi. Agak lebay siy, tapi saya emang udah lamaaaaa banget nggak dengerin radio. Huehehehehe.... Call me old school, but really, i love listening radio.
Dari kecil sebenernya saya udah biasa ngedengerin radio. Nurun dari mama kali yaa, mama cerita kalo waktu kecil suka ngedengerin radio diem-diem di kolong meja sama ii. Hahaha... Oiya, kalo saya sih  sebenernya yang dengerin mama dan ii. Dan karena saya ngegelendot sama mama dan ii, jadilah saya secara nggak sengaja ikutan dengerin radio. Kan lagi jaman-jamannya sandiwara radio kayak Saur Sepuh, Brama Kumbara, dan sejenisnya. Keren deh. Gimana caranya supaya pendengar makin penasaran dengan jalan cerita yang hanya bisa di dengar, bukan di lihat. Gimana caranya memvisualisasikan lewat suara dengan intonasi-intonasi tertentu. Beuuhhh... Susah bener kan. Bentuk radio yang mama saya punya masih jadul banget, kotak gitu, warna item. Ada puterannya, penanda frekuensinya warna putih. Mirip-mirip kayak gini:
Picture Taken From Here
Terus waktu masih di pondok, saya dan beberapa temen saya bandel banget. Ngumpet-ngumpet beli walkman buat dengerin radio [dan kaset]. Iya, waktu itu walkman masih jaman banget. Harganya juga masih lumayan buat ukuran taun segitu, 150-200 ribuan, tergantung merknya juga. Saya sampe bela-belain irit jajan dan nabung buat beli. Walkman pertama saya dan satu-satunya  merknya Sony. Warna abu-abu. Belinya di bawah Matahari Singosaren. Bawa masuknya nggak lewat satpam, tapi lewat pager depan penta. Hahahah... Awet bangeeettt itu walkman... Berkali-kali jatuh dan kebanting tapi nggak pernah rusak. Earphonenya berkali-kali rusak dan saya ganti mulai dari yang original sampe yang abal-abal, tapi walkmannya mah tetep kokoh, walau jadi buluk dan baret-baret. Pernah sampe disita jugak sama ustadzah, tapi emang masih rezeki saya, alhamdulillah masih boleh di ambil pas saya lulus *dancing*
Penampakan walkman saya nih, persis banget. Cuman punya saya abu-abu. Dan baret-baret :D
Picture taken from here
Setelah walkman disita, rasanya hampa. Ngeliat mimus, temen saya, tetep asyik sama walkmannya, saya nggak tahan. Akhirnya saya beli lagi, sejenis mp3 player yang kecil gitu, tapi cuman radio aja. Udah mulai digital, nyari frekuensi cuman di cetek-cetek gitu, tapi saya malah nggak suka. Harganya waktu itu berkisar 50ribuan. Jadi ceritanya, saking setres dan bosen nggak ada hiburan, saya dan beberapa temen kecanduan denger radio, [kayaknya yang nyadu cuman saya dan mimus aja deh. Haha]. Kami ngedengerin radio hampir setiap saat, pulang sekolah, malem-malem mau tidur, bahkan waktu dikelas kalo pelajarannya ngebosenin. Jangan ditiru yak. Hahha.. Dikelas, walau duduk berjauhan dan dengerin frekuensi yang beda, tiap salah satu dari kami nemu frekuensi yang bagus dan lagu enak-enak, pasti langsung kasih kode, di frekuensi mana. Waktu itu frekuensi radio di Solo nggak sebanyak di Jakarta, dan yang kami suka banget adalah radio yang disiarin sama mahasiswa UMS. Kayaknya ada UKM penyiaran gitu, terus mereka bikin siarannya. Penyiarnya waktu itu masih jarang banget dan cupu, tapi asiknya, lagu lebih banyak di puterin. Nggak ada iklannya pulak.
Pas udah kuliah, saya juga masih sering dengerin radio. Waktu di jalan pulang-pergi kampus, nunggu kuliah berikutnya, lagi ngetik paper, sampe nyuci-nyetrika. Saya dan salah satu sahabat saya, indah, suka ngebahas salah satu program cinta di salah satu stasiun radio malahan. Hahaha.... Sayangnya walkman saya itu ilang waktu rumah saya dibenerin. Saya sedih banget, itu kesayangan saya, belinya hasil usaha saya sendiri, sejarahnya juga panjang banget. Jahat banget yang ngambil :(
Di kamar saya ada radio sih, tapi kan gede dan nggak bisa dibawa kemana-mana. Akibatnya waktu mau beli henpon, fitur yang pertama kali saya liat adalah radionya. Henpon saya nggak ada radionya henpon pertama saya, nokia 3310 dan esia kado ultah saya. Sisanya, nokia 6610 yang ilang di rampok dan Sony Ericcson k750i, ada radionya.
Saya pribadi lebih suka dengerin radio daripada mp3. Gimana yah, rasanya lebih "hidup". Nggak melulu cuman lagu, tapi diselingin iklan yang kadang aneh dan bikin ngakak. Terus ada suara penyiarnya juga. Jadi saya merasa masih ada kehidupan di telinga saya. Kalo dengerin mp3, saya ngerasanya kaku. Dan nggak happening. Soalnya saya udah tau play listnya apa aja, biar di shuffle juga nggak ngaruh. Beda kalo denger radio. Walo ada segmen tertentu, ada programnya, tapi tetep saya ngerasa surprise sama lagu-lagunya. Mungkin juga karena kalo denger radio saya bisa ikutan menebak lagu apa yang akan di puterin. Dan saya bisa ngelonjak kegirangan kalo lagi muter-muter nyari frekuensi terus nemu lagu yang udah lamaaa nggak saya dengerin atau lagu yang entah kenapa sesuai sama perasan saya waktu itu. Berasa surprise dan ketemu takdir. Apalagi kalo lagi galau. Huahahahahaha....
Dengerin radio juga ada seni tersendiri. Jodoh-jodohan gitu lah. Jaman dulu kudu punya feel yang pas dan ingetan yang kuat buat nemu frekuensi favorite. Kegeser dikiiiit aja, udah kresek-kresek gituh. Apalagi kalo rumah udah dikelilingin bangunan yang tinggi-tinggi macem rumah saya, dadah babay deh. Jangankan ketangkep siarannya, krsek-kresek nggak jelas gitu doang, padahal antenanya udah di panjangin macem antena tipi dan di arahin ke jendela. Jaman sekarang sih udah enak banget, tinggal klal klik. Udah gitu bisa di save pulak. Kalo nggak ada fitur radio, atau lagi di luar kota/negri, bisa donlot programnya, bisa juga streaming. Ngikutin perkembangan zaman. Dimana tipi dan parabola udah bertebaran dimana-mana, mp3 tinggal donlot, youtube dan video udah nggak asing, tapi radio masih bisa eksis sampe sekarang. Dibutuhin inovasi dan sesuatu yang unik dari masing-masing radio untuk nunjukin keistimewaannya di telinga pendengar supaya bisa tetap bertahan.
Menurut saya sekarang radio segmented banget. Tiap radio punya target pendengar dengan range usia tertentu, yang nggak jarang dipake sebagai sebutan untuk para pendengarnya. Contohnya, radio dengan target pendengar orang tua, ibu-ibu muda atau teenager. Selain target usia pendengar, biasanya ada spesialisasi tertentu, yang sering juga di pake di taglinenya. Misalnya radio yang khusus muterin lagu-lagu Indonesia, lagu-lagu mandarin, atau dangdut. Intinya sih harus unik, dan catchy di telinga. Mereka kan harus bersaing memperebutkan sekian pendengar yang masih setia sama radio, dibanding media hiburan yang lain.
Jadi setelah sekian lama absen ngedengerin radio, bisa denger lagi rasanya seneeeng banget. Udah nggak pake radio atau henpon lagi siy, boombox yang biasa dikamar saya udah pindah ke dapur, earphone henpon juga rusak, jadi saya dengerin make mp4 biru kesayangan saya yang multifungsi banget dicolokin ke speaker, hadiah ultah seperempat abad dari kangmas. Mp4 saya keren loh, bisa mp3/mp4, radio, recording, nggak kalah deh sama ipod. Maksa yak. Hahahahah....
Anyway, buat saya, entah kenapa, radio tuh never ending deh. There always something new when i listen it. Nggak heran sampe dijadiin lagu sama beberapa artis, dari artis Indonesia sampe artis barat. Buat yang nggak suka denger radio, coba denger deh. Manusia-manusia dibalik radio tuh unik dan jenius banget.  Saya sampe pernah kepengen banget jadi penyiar, atau kerja di radio gitu. Keren. Tapi ternyata kudu kreatif juga, saya kan kereatip. He.... Suara para penyiar juga beda-beda lohh. Tapi jangan sampe ketipu sama suara juga yak, yang suaranya sekseh belum tentu penampakannya juga sekseh. Xixixixixixi....
Mp4 saya, sayang mereknya AUDI, bukan Qq. Haha.. :D

Monday, February 20, 2012

The Three Great Questions



The Three Great Questions:
Why are you here?
Where have you been?
Where are you going?

-Les Brown-

[i really wish that i'm getting] pregnant

Picture taken from here
Saya nggak lagi hamil. Belum hamil tepatnya. Jadi jangan tanya-tanya lagi saya udah isi apa belum. Kalopun nanti saya hamil, pasti saya bikin pengumuman kok. Jadi jangan khawatir ketinggalan berita tentang kehamilan saya. 
Maaf kalo saya jutek. Udah dari sononya. Saya udah hamil apa belom, nggak ngerugiin orang laen juga kan. Bukan saya nggak pengen di perhatiin orang laen, tapi kadang perhatiannya lebay dan bikin saya yang dasarnya udah sensi jadi makin sensi. Emang kenapa sih kalo saya tambah gendut? Saya membesar kan bukan berarti saya lagi hamil. Saya tambah doyan makan, jadi wajar kalo membesar. Emang kenapa kalo perut saya buncit? Saya males olah raga, jadi nggak heran kan perut saya buncit. Emang kenapa kalo pipi saya tembem? Waktu tidur saya tambah banyak, kalo pipi saya tirus saya malah heran. Emang kenapa kalo saya pake babydoll ato baju longgar? Saya suka kok, dari jaman kuliah juga udah suka. 
Saya juga kepengen hamil. Banget. Saya kepengen kasih anak buat kangmas, buah cinta kita berdua. Cucu buat mama, mertua dan ii saya. Keponakan buat adik dan ipar saya.  Tapi kalo emang belum di kasih sama Allah saya harus ngapain? Pundung nggak karuan gitu?
Saya udah makanin toge. Makan kurma muda yang sepet bener. Serbuk kurma sampe kurma muda kering yang keras banget. Apa segala macem deh. Saya jadi silent reader di milis-milis dan mraktekin tips-tipsnya mulai dari nungging ampe sikap lilin tiap abis penyerbukan yang bikin badan saya pegel-pegel ampe sakit. Saya juga nyoba ngitung masa subur mulai metode kalender ampe ngabisin kuota inet saya buat donlot-donlot jadwal masa subur. Yang belom saya coba cuman ke dokter. Saya masih nyari obgyn perempuan. Yang bagus dan jadwalnya cocok.
Lagian saya baru nikah 7 bulan. Kalo kata wikipedia, salah satu definisi infertil atau nggak subur itu kalo belum mengandung setelah 12 bulan berhubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi dan usia wanita dibawah 34 tahun. Jadi saya masih punya masa tenggang 5 bulan sebelum di vonis nggak subur. *Dikata provider apa pake masa tenggang*
Saya bohong kalo saya bilang saya nggak setres. Saya jadi kayak tata* dan alex**. Tiap liat testpack negatif rasanya nusuk banget. Tiap liat orang hamil saya pasti ngelus perut saya berharap disitu udah ada kehidupan. Tiap liat baju bayi saya kepengen beli untuk anak saya yang masih belum ada. Tiap denger berita kehamilan saya iri setengah mati. Tiap pms saya berdoa itu bukan pms tapi tanda kehamilan. Tiap kali mens saya nangis. Saya kepingin hamil. Apalagi saudara-saudara dan temen-temen yang nikahnya deketan sama saya udah pada hamil. Kangmas selalu bilang mereka bukan patokan, emang belum rezeki kita untuk dikasih kepercayaan sama Allah. But I'm irritated. Totally. Mama dan ii saya sampe nggak pernah ngasi tau lagi kalo ada saudara saya yang hamil. Entah nggak tega atau apa, yang pasti belakangan ini saya tau secara nggak sengaja.
Errrgggghhhh... Saya jadi curhat nggak mutu gini. Abisan saya beneran nggak tau harus jawab apa tiap ditanya udah isi apa belum. Kalo bikin anak segampang bikin telor dadar pasti saya udah hamil dari kapan tau. Sayangnya bikin anak bukan bikin telor dadar. Saya sama kangmas cuman bisa berusaha bikin dan berdoa. Semoga Allah berkenan meniupkan kehidupan di rahim saya secepatnya. Saya percaya Allah punya rencana yang terbaik untuk saya dan kangmas. Dan mungkin menurut Allah yang terbaik saat ini saya belum hamil dulu. Mungkin seminggu lagi. Mungkin sebulan lagi. Semoga secepatnya. Amiin Ya Allah...
*Mohon doanya*


*Tokoh dalam novel Testpack Karya Ninit Yunita
**Tokoh dalam novel Divortiare dan Twivortiare Karya Ika Natassa

Sunday, February 19, 2012

Grow Old With You



Falling in love with this song since the first time i've heard it. Three word, simple but deep. I was melting and said, "maaannnn... all you need is playing this with your guitar and i promises that i would fall for you". Sooo cheesy, am i? *grin*
Anyway, i thought this is a soundtrack for 50 First date, but i'm totally wrong. Not 50 first date, but The wedding singer. I couldn't find the original video version, but this one, i think cute enough. And simple also. 
Owhh... I retype the lyrics. Hopefully one day my dearest kangmas will play and sang this song for me :)
Enjoy.....

Billy Idol (Speaking): Good afternoon everyone. 
We're flying at 26, 000 feet, moving up to thirty thousand feet, and then we've got clear skies all the way to Las Vegas. 
And right now we're bringing you some in-flight entertainment. One of our first-class passengers would like to sing you a song inspired by one of our coach passengers, and since we let our first-class passengers do pretty much whatever they want, here he is. 

Robbie Hart (Singing): 
I wanna make you smile whenever you're sad 
Carry you around when your arthritis is bad 
Oh all I wanna do is grow old with you 

I'll get your medicine when your tummy aches 
Build you a fire if the furnace breaks 
So it could be so nice, growing old with you 

I'll miss you 
Kiss you 
Give you my coat when you are cold 

Need you 
Feed you 
Even let ya hold the remote control 

So let me do the dishes in our kitchen sink 
Put you to bed when you've had too much to drink 
Oh I could be the man who grows old with you 
I wanna grow old with you

Saturday, February 18, 2012

Bad Bad Bad

Saya lagi sakit. Cuman alergi doang sih, tapi kesiksa bener. Kambuh alergi terparah sepanjang 27 tahun 24 hari saya hidup di dunia inih. Bayangin aja, bentol yang biasanya cuman nongol sebiji, paling banter 2 biji dan ilang gatelnya abis minum incidal sekarang nongol ampe 6 biji, gede-gede pula. Yang paling nyiksa adalah gatelnya setengah mati. Udah saya minumin incidal od nggak mempan. Sampe uring-uringan sendiri nahan gatelnya. Kata kangmas nggak boleh di garuk, nanti tambah gatel. Emang bener, tiap saya garuk gatelnya makin jadi. Saking nggak tahannya, saya sampe nambah minum ctm sebiji. Alhamdulillah, hari ini tadi bentolnya udah ilang, tinggal nyisa merah-merahnya dan gatelnya. Masih parah banget ituh gatelnya, padahal tadi udah saya minumin incidal ol lagi. Inih barusan saya minum ctm lagi, gatelnya untuk sementara berenti. Mudah-mudahan nggak gatel parah lagi. Rasanya mau muntab tiap gatel tapi nggak bisa garuk. Sampe saya garuk-garuk kasur sambil berhalusinasi itu adalah gatelnya dan gatelnya ilang. Yang memeperparah adalah barusan ini saya dapet. Aaarrrrrgggghhhhh.. Saya tambah uring-uringan. Mana gatel, mana badan mau rontok, mau sakit perut en pinggang. Sampe gelundung-gelundung di kasur, ndumsel-ndumsel, ampe nyungsep-nyungsepin kepala di pangkuan kangmas. Huhuhu… Kesiksa…
Alhadulillah banget punya suami baik hati dan cukup penyabar kayak kangmas yang rajin banget ngecek bentolnya terus makein bedak sambil ngelus-ngelus dan saya cuman bisa ngerengek sambil uring-uringan. Hehehe… Sungguh kombinasi pasangan yang aneh ;p Mudah-mudahan besok udah ilang ya gatelnya. Terus ilang juga deh merah-merahnya. Saya udah kepengen banget makan sifut lagi. Huehehe…. Tadi mama saya masak udang. Nyummmm… Tapi saya nggak berani makan saking gatelnya parah banget :(

Thursday, February 16, 2012

Learning as I play

Picture taken from here


When I'm  building in the block room,
Or moulding and shaping clay,
I'm expressing myself and being creative.
Learning as I play.


When you see me busy with a puzzle,
Or some "plaything", you may say,
I'm learning to solve problems and concentrate.
Learning as I play.


When you see me learning to hop, skip and run,
Or move my body and sway,
I'm learning how my body works.
Learning as I play.


When you ask me what i've done at school today,
And I say, "I played".
Please don't understand me,
For you see, I'm learning as I play.

Source: Unknown

Note:
I've found this simple poem when i was work at Gandhi school. Dunno where this came from, but the teacher ask children to stick the copy of this poem on the workbook and memorize it. Then i took it from the extra basket. Hehe... ;p
I love the words. I like how they explain a childhood in a simple word. And for me, this poem remind me of childhood things. When we grow up, become a teenager, an adult, work, married, and having children, we often forget about what we feel when we was child. We often judge our cousin, nephew, niece, or even our own child as naughty children because they play only and don't wanna study. We forgot as children, they learn from anything they found, anything they saw and heard. Even when they play, they could learn so many things. Team work, strategy, vocabulary, friendship, and so on. But us, when we grow up, we forgot to play. We forgot how it feels. We forgot how to learn. We forgot our "naughty" childhood, and ask children only to  study and get the best mark on their worksheet.
I retype this poem to my blog. So one day, as a mom, a parent, i could learn also from this poem. To let my children play and learn something from them. Hopefully, we could be the best parent from our children.

Cinta samar-samar

 
Saya sering heran sama pasangan ini. Dan sekarang saya lagi usil banget. Abisan tiap saya dan indah tanya ke bocahnya langsung, pasti jawabnya "tau ah", atau "lalalallalalalallalalallalalala". Kadang sok mesra, kemana-mana berdua. Tapi sering bener berantem, sampe saya geregetan sendiri liatnya. Apalagi kalo liat twitnya yang cewe', seandainya saya nggak kenal, saya pasti mikir orangnya lagi patah hati parah makanya menye' dan galau terus-terusan. 
Ya sudahlah ya, robinho udah ngegolin lagi tuh. Saya mau lanjut nonton Milan - Arsenal. Tapi pertanyaan saya kayaknya nggak akan kejawab dalam waktu dekat ini, yang saya tau abis ini saya bisa biru-biru di cubitin, atau mungkin daging saya gompal karena di gigitin. We'll see aja ya... Semoga segera ada kelanjutannya, maklum, penonton kepo. Huakakakakak..... Piss... ^^v

Cumi asin absurd

Tadi abis nyuci piring saya nemu plastik kegantung di rak piring, ada semutnya gitu. Keliatannya sih cumi asin, tapi saya nggak yakin. Jadi saya panggil mama saya.

Q : Maaaa..... Ini apa ya? Kok di semutin? *sambil jalan ke dapur*
M : *ngikutin ke dapur* Ooohhh... Cumi asin, kulkasin aja kalo gitu.
Q : Emang nggak kenapa-kenapa kalo di kulkasin? Nggak basi gitu?
M : Nggak lah, udah kulkasin aja. *sambil jalan ke ruang tengah*
Q : *Ngambil plastik cumi, ngeliatin plastik seisinya sambil jalan ke kulkas* Aku masukin freezer dulu aja ya biar semutnya mati.
M : *ngomong dengan geregetan sambil ngeliatin saya* Ya ampun, kamu tuh emang cucunya ene' ya. Ckckck..
Q : *bengong, kemudian cengengesan*

Obrolan yang absurd antara mama dan saya. Haha.. Otak saya emang error. Abis masukin cumi ke kulkas saya baru ngeh, cumi asin itu kan mirip-mirip lah ya sama ikan asin, udah di garemin dengan tujuan supaya awet. Jadi mana mungkin cumi asin yang belom dimasak bisa basi. Bulukan iya. Nggak ada ikan asin yang basi juga kan ya? Huehehehuehe.... 
Yang kedua, saya kan emang cucunya nenek saya, jadi nggak usah di sebut berkali-kali juga mama saya pasti inget lah. Tapi ternyata tanpa sadar saya mengimitasi perbuatan dan cara pikir nenek saya. Kalo menurut mama saya, di taro di kulkas bawah juga cukup, nanti semutnya mati sendiri. Tapi tadi ituh saya mikirnya gini: Di kulkas bawah kan nggak terlalu dingin, kalo ditaro disitu semutnya pasti nggak langsung mati, trus dia bisa jalan-jalan dan ngerubungin makanan yang lain, jadi di taruh di freezer aja dulu. 
Abis mama bilang gitu saya baru ngeh, nenek juga semasa hidupnya ngelakuin hal yang sama seperti yang saya lakuin kalo ada sesuatu di semutin. Si taruh dulu di freezer. Duh... Saya jadi tambah kangen nenek... :'(

Monday, February 13, 2012

Monyet Yang Punya Jambu

Ini adalah foto jambu monyet, yang saya taruh di piring kecil yang diameternya cuman sejengkal. Jadi sebenernya buahnya [di piring ini] nggak gede. Waktu itu mama saya beli, katanya biar saya tau kayak apa jambu monyet itu. Sebenernya saya udah tau, udah pernah makan juga. Mungkin mama lupa waktu saya esde mama pernah beli jambu monyet beserta daunnya. Buahnya dimakan gitu aja, bijinya tadinya mau di kupas dan di goreng, tapi karena keras banget nggak ada yang bisa buka, jadinya di buang deh. Daunnya di jadiin lalapan, rasanya sepet. Kata mama kalo makannya barengan sama daun pepaya, jadi enak. Daun pepaya nggak terasa pait, daun jambu monyet nggak terasa sepet. Saya nggak doyan daun pepaya, pait. Maka saya cuman ngelalapin daun jambu monyetnya aja, make sambel terasi dan nasi putih anget. Buahnya juga saya makan, rasanya sepet dan getir, airnya banyak. Kata almh.nenek saya dan mama, supaya lidah dan mulut nggak gatel kena getahnya, sebelum dimakan buahnya di cocolin ke garem. Sedikit aja, kalo kebanyakan jadi asin. Garem juga lumayan menetralisir sepet dan getirnya, rasanya jadi enak. Saya sendiri nggak pernah liat pohon jambu monyet. Juga nggak pernah liat jambu monyet di jual di pasar, pinggir jalan, atau supermarket kayak buah-buah yang lain. Entah mama saya beli dimana. Menurut saya mungkin karena rasanya aneh, jadi nggak banyak yang jual. Juga karena oleh lebih suka kacang monyetnya, alias kacang mede. Daunnya yang di buat lalapan juga jarang banget yang jual. Mungkin karena orang jaman sekarang nggak suka makan lalapan, apalagi yang rasanya aneh. Tapi saya suka. Mungkin karena saya produk orang jaman dulu, tinggal dan dibesarkan dengan orang jaman dulu, maka saya bersyukur saya doyan lalapan dan bisa tau lalapan dan makanan unik kayak gini.
Sekian tentang jambu monyet aka jambu mede. Kalo mau tau versi wikinya, klik aja dimari.

Kamar nenek

Hari kedua ngeberesin kamar nenek. Sendirian.
Kadang nahan nangis.
Kadang nahan ketawa.
Nenek marah nggak ya "harta"nya gue buang-buangin?
Maaf ya nek... Cucunya nakal... :'(

Sunday, February 12, 2012

Akhirnya Dilamar Juga

Si Calon penganten sedang berusaha meniruskan pipinya
Yaaaaak, akhirnya salah satu sahabat saya, indah, akhirnya mau dilamar juga sama pacarnya setelah terjadi pergulatan dalam perjalanan yang panjaang banget dan bisa bikin saya jenggotan kalo saya ceritain secara detail dan lengkap. Lamarannya berlangsung kemarin (11/02) setelah melewati masa-masa kritis bagi saya dan riza untuk nggak bener-bener ngejedotin kepala ke tembok berkali-kali. Saya nggak becanda, intinya bener-bener menguras emosi dan pikiran. Bahkan kami nggak percaya indah beneran mau lamaran sampai kami ngeliat langsung kemarin itu.
Sahabat tersayang saya itu cuma punya waktu 2 minggu buat nyiapin acara lamarannya, dan entah kenapa di isi sama hal yang bikin kami, saya dan riza geleng-geleng kepala. Kalo cuman sekedar tawaf muterin tenabang, ngiderin mall, bukan hal yang aneh, saya udah ngerti banget. Juga soal ke-perfeksionis-an sahabat saya itu, saya  udah hapal di luar kepala. Tapi sampe detik ini saya nggak ngerti kenapa indah sebegitu kekeuhnya kepingin kue dari Maharani.
Dari awal saya dan riza udah ngerancang supaya kue-kue dan hantaran di taruh di rumah riza, karena rumahnya deket sama rumah indah dan rumah calonnya indah jauh banget di ujung dunia sana. Maksud saya biar gampang, calonnya itu nggak usah bolak balik, dan segala sesuatu sesuai dengan selera indah. Hantaran di hias di rumah saya, karena mama saya suka banget ngehias-hias itu dan hasilnya ciamik, nggak kalah sama yang di hias di Cikini. Kue-kue juga saya dan riza pesan yang nggak hanya terjangkau, enak, tapi juga keren. Pilihan jatuh pada Sylvie bika ambon dan Harvest. Belakangan sahabat saya ini kekeuh sumekeuh mau blackforest dan lapis surabaya dari Maharani. Maharani itu toko kue rumahan gitu, tapi skala pabrik. Harganya murah dan katanya enak. Saya dan riza nggak masalah mau dari bakery sekelas Harvest atau dari rumahan, yang penting enak. Tapi masalahnya, Maharani itu terletak jauh di ujung pondok kopi yang mana akan ngabisin waktu lagi buat perjalanan pesan dan ngambilnya sedangkan masih banyak hal lain yang harus kami urus. Akhirnya kami mengambil keputusan untuk memesan bf di Harvest dan lapsur di toko kue rumahan dekat rumah saya. Harga {lapsur} sama dengan Maharani, rasanya juga enak, dan yang penting nggak ngabisin waktu. 
Saya dan riza nggak ngerti kenapa sahabat kami yang satu itu kepengen banget kue Maharani. Kalo hanya sekedar kepingin dan penasaran, bisa dipenuhin abis lamaran nanti, setelah masa-masa riweuh bin ribet lewat. Udah kami jelasin, tapi teteep aja kekeuh bahkan nggak berentinya ngecek soal si Maharani. Riza cerita sama saya kalo dia geregetan. Saya juga. Sampe pengen saya gigit deh orang itu. Bahkan hingga selesai acara lamaran, indah tetep kekeuh dan mempertanyakan maharani di antara hantaran kue yang dibawa keluarga calonnya. Saya heran. Riza heran. Kenapa indah tidak bisa membedakan hantaran yang kami urus dengan susah payah dan berdarah-darah itu dengan hantaran tambahan yang di urus keluarga calonnya. *Nangis bombay*
Sudahlah. Yang terpenting lamarannya berjalan lancar walau ada bagian yang saya dan riza ngerasa janggal, sahabat saya itu tampil cantik, ada dokumentasi {thanks to saya dan riza tentunya} dan hantarannya keren. Kalo abis ini indah masih nanyain Maharani, saya dan riza udah sepakat buat ngelelepin dia di kali depan rumahnya. *Abaikan*
Oiya, foto-fotonya banyak yang ada di kamera riza. Jadi belum saya edit. Saya terlalu malas. Tapi teteup, saya harus eksis. Hehehe.... 
Saya dan Riza, dandanan masih fresh ;p

Friday, February 10, 2012

Barisan ayam biru



Saya, Riza, dan Indah, entah kenapa suka banget makan ini kalo ke Solaria. Chicken Cordon Bleu dengan nasi. Kalo lagi sok-sokan diet, pesannya sama kentang goreng. Rasanya enak banget, ngenyangin, dan harganya terjangkau kantong. Nggak nyampe 50 ribu rupiah, udah sama es teh manis. Tapi jangan coba-coba pesan makanan ini waktu lagi kelaparan setengah mati, yang ada pengen makan meja saking lamanya pesenan dateng. Mungkin proses masaknya lama, saya nggak tau juga. Kalo udah setres nunggu sampe lapernya ilang karena kembung minumin aer, saya cuman bisa bilang: "Mungkin ayamnya baru di cabutin bulunya, mangkanya lama". *sigh*
Kalo mau tau asal muasal makanan ini, bisa klik disini.

Note:
Judulnya ngawur, saya bingung kasi judul apa. Jadi saya translate asal-asalan aja. 

Thursday, February 09, 2012

Kosong

Beberapa malam ini selalu menangis kala mengingatnya.
Tak jarang berajak ke dapur, hanya memandangi kamar di pojok belakang.
Membayangkan lampunya menyala, pertanda beliau ada disana.
Menajamkan pendengaran, berharap mendengar suara pintu di kunci, atau langkah kaki beliau.
Memandangi pintu kamar kala siang hari, berharap terbuka, beliau muncul dan mengajak makan.
Menatap jemuran, berharap beliau tergopoh memintaku meminggirkannya.
Lantas membantu dan menemani melipatnya.
Tapi kosong..
Dan sepi...
Tak ada nyala lampu.
Tak ada suara-suara.
Tak ada lagi beliau.
Satu kata, rindu.
Dan sekarang saya menangis lagi.....

Wednesday, February 08, 2012

Nenek, Tukang Piare, Dan Jamu Penganten

Menjelang 100 hari meninggalnya nenek, makin banyak hal indah yang nggak berentinya berseliweran di otak gue dan nggak bisa bikin gue nggak nangis. Minimal ngembeng berusaha nahan nangis. Kangeeen banget sama nenek. Apalagi pas ngeberesin album foto, foto-foto di lepi, dan ngeberesin kamar beliau. Menyadari beliau udah nggak ada buat ngomel-ngomelin gue, nyayangin gue, bantuin gue beberes, nemenin dan ngurusin gue, rasanya terlalu sakit. Yeah... udah segede gini, idah punya suami, gue masih aja di urusin sama nenek, mama dan ii dalam banyak hal, tanda betapa hidup gue penuh cinta dari mereka. . . .
Nenek nggak pernah ngeluh ngurusin gue. Pun untuk hal-hal sepele yang seringnya nggak keliatan sama orang lain. Contohnya menjelang pernikahan gue, juli 2011. Sebagai calon penganten, banyak banget pantangan yang dikasi sama nenek. Nggak boleh makan pedas, asin, goreng-gorengan / mengandung minyak. Supaya nggak keringetan, bugar, dan nggak bau badan. Kalo nggak keringetan kan make up bisa nempel dengan baik, muka juga lebih fresh. Susaahhh banget nurutin itu, bawannya nggak nafsu makan. Tapi mau nggak mau harus makan, biar sehat dan nggak tumbang pas jadi penganten. Untungnya masi boleh minum susu, jadi kalo lagi nggak nafsu, minum susu yang banyak. Percaya atau nggak, gue nggak diet sama sekali menjelang nikah. Berat badan nyusut sendiri, tapi muka nggak kuyu. 
Selain pantangan makanan, minum jamu juga dong. Awalnya nenek cuma ngebeliin jamu kunyit asem di yayuk jamu langganan. Terus suatu waktu, nenek bertandang ke rumah nenek armani. Nenek armani ini orang betawi, dulu beliau tetangga. Tapi kemudian rumahnya di jual terus pindah. Nenek armani ini bilang kalo beliau mau jadi tukang piare gue. Jadi, di dalam adat betawi, setelah lamaran calon penganten akan dipiare sama yang namanya tukang piare. Apa itu tukang piare? Menurut disini,
 Tukang piare merupakan wanita sepuh yang memang telah diyakini ahli dalam merawat kecantikan calon pengantin dan memiliki kekuatan batin khusus. Biasanya ritual perawatan disertai dengan doa-doa tertentu.
Tentang dipiare dan tukang piare bisa dibaca disini dan disini.
Nah.. Karena nenek armani rumahnya lumayan jauh deh, jadi beliau ngasi resep jamu dan bacaan doa yang harus dibaca sebelum minum jamu tsb. Bacaannya apa gue nggak inget, panjang bangeet, dan kayaknya udah disimpen lagi sama nenek. Nenek nggak maksa gue buat minum, tapi beliau ngerayu gue dengan bilang, enak kok, nggak pait. Dan ternyata, ramuannya cuman kayu secang yang direbus, terus dikasi buah kelengkeng. Sesimpel ituh. Believe me, rasanya rebusannya tawar. Dan hebatnya, nenek gue nggak minta siapapun buat bikinin ramuan ituh. Beliau pergi ke pasar sendiri, beli kayu secang dan buah kelengkeng. Setiap hari, beliau sendiri yang ngeracik. Ngerebus, bahkan ngupas buah kelengkengnya. Kalo udah selesai bahan-bahannya disimpen sendiri. Gue? Tinggal minum aja gitu. Nggak tau diri banget yak?
Beberapa hari menjelang di timung, gue bilang sama mama kalo gue juga mau minum jamu penganten. Nah si mama nggak sempet-sempet, jadilah gue minum jamu penganten nggak nyampe seminggu. Pas denger gue mau minum jamu penganten, nenek nanya sama gue, beneran mau minum? Pait banget soalnya rasanya. Kalo nggak mau minum juga nggak apa-apa. Nenek nggak nyuruh, nggak maksa, karena tau jamunya pait banget dan gue nggak doyan pait. Gue siy pada dasarnya mau-mau aja, sekali seumur hidup gitu. Lagian gue juga pengen cantik dan manglingi pas jadi penganten, jadi pantangan apapun, minuman apapun, harus di jalanin. Karena kita nggak tau siapa yang bisa bikin jamu penganten, maka mama beli jamu penganten di pasar senen, di tempat ibunya tante dwi jualan. Kata mama jamu pengantennya bagus. Percaya aja deh, nggak ngerti yang gitu-gituan. Pas nyampe dirumah, glodak. Keringnya aja udah banyak banget, apalagi pas di rebus? Jadi di jualnya perplastik gitu, ukuran +/- 30x15 cm, plus buah pinang. Buah pinangnya harus fresh, nggak bisa yang kering.
Mama adalah orang paling sibuk sedunia, apalagi menjelang nikahan gue banyak banget yang harus di urus sama mama sendiri, jadi urusan perjamuan secara otomatis yang ngurus nenek. Beliau dengan telaten ngebagi 2 rempah keringnya, nggak langsung direbus semua karena pancinya nggak muat, terus ngerebusin ramuannya. Setelah mateng, nenek ngebawa sepanci-pancinya ke kamar gue. Di satu sudut kamar, beliau taruh pancinya. Pancinya dialasin semacam kardus dan tatakan besi biar nggak langsung kena ubin. Terus beliau naruh nampan plastik yang isinya gelas kaleng, saringan teh, tutup gelas, gelas kosong beserta tutupnya. Jadi kalo gue mau minum, dari panci langsung dituang ke gelas kosong, tapi ditaroin saringan jadi rempah-rempahnya nggak kebawa. Setelah diminum, gelasnya ditutup. Rempah yang kesngkut dibalikin lagi ke panci, saringan ditaruh di atas gelas  kaleng supaya nggak netes, terus di tutup. Kata nenek gelasnya nggak boleh di cuci sampe jadi penganten, harus make gelas yang sama setiap kali minum. Setiap pagi dan sore, rebusannya dikeluarin, dipanasin, ditambah air dan sisa rempah kering, ditaruh lagi di kamar gue. Yang ngerjain semuanya adalah nenek gue, beliau nggak minta seorang pun buat ngebantuin ataupun menyentuh panci tersebut. Semua rutin dilakuin sampe hari menjelang pernikahan gue.  Pun ketika gue bertanya, kenapa di pegangan panci ada benang kasur terlilit dan masuk ke dalam rebusan. Beliau cuma bilang jangan diangkat, biarin aja. Setelah menikah, nenek baru bilang kalo benang tersebut buat mengikat cincin emas nenek yang ikut di rebus. Tujuannya? Supaya si pengantem cerah dan bersinar layaknya emas. Setiap pagi dan sore, beliau rutin ngingetin buat minum jamu. Kalo gue males-malesan, beliau cerita, kalo orang jaman dulu 3 bulan sebelum jadi penganten udah minum jamu, 1 bulan sebelum menikah minum jamu udah kayak minum air putih, dan sesedikit mungkin minum air putih. Hiyaahh... ngebayanginnya aja gue nggak sanggup. 
Selaen rebusan secang-lengkeng dan jamu penganten yang ternyata paitnya naudzubillah dan warnanya kehitaman, setiap pagi nenek masi ngebeliin kunyit asem, dan air gula jahe segelas besaar. Waktu pertama gue minum jamu penganten, abisannya gue makan gula. Pait beud.. Lebih pait dari jamu daun pepaya. Besoknya abis minum jamu penganten, gue minum rebusan gula-jahe. Rasa paitnya jadi mendingan, dan perut juga anget nggak enek. Maka nenek rutin ngebeliin itu setiap hari. Dipagi hari menjelang akad, beliau juga sempat merebuskan 2 butir telur untuk sarapan gue. Cuma telur rebus dan nasi putih. Dan dua sendok makan madu, yang beliau suapkan langsung ke gue, biar kuat dan nggak lemes. Bayangkan, suapkan langsung. Betapa sayangnya nenek ke gue. Syukur alhamdulillah, gue nggak lemes dan nggak ngerasa capek banget. Cuma agak pusing pas make baju betawi karena naro pandannya kurang pas.
Kalo inget itu, air mata rasanya nggak berenti netes. Beliau ngelakuinnya tampa pamrih, tanpa merepotkan siapapun kecuali dirinya sendiri. Jadi bisa dibilang, tukang piare gue adalah nenek. Dan nggak cuma gue, setiap kangmas kerumah menjelang nikah, nenek juga selalu ngebuatin ramuan secang-kelengkeng dan jamu penganten buat kangmas. Katanya biar sedikit tetep harus dipiare. Dan hasilnya, alhamdulillah banyak yang bilang kangmas ganteng banget waktu jadi penganten. Nggak satu-dua orang yang alhamdulillah bilang gue cantik banget dan manglingi. Bahkan teman-temen pengajian nenek bilang gue kayak barbie pas make baju belande *blushing* 
Setelah pernikahan, beberapa kali setelah pulang ngaji beliau selalu menceritakan pujian teman-teman beliau tentang betapa cantik dan manglinginya gue, dengan matanya yang berkaca-kaca dan wajah menahan tangis, walau air matanya tak jarang jatuh juga. Air mata bahagia dan bangga gue yakin. Beliau juga bercerita, teman-teman beliau selalu bertanya ingin tahu dan penasaran, ramuan apa, doa serta bacaan apa yang beliau gunakan ketika "miare" gue, karena mereka juga ingin anak-cucu mereka manglingi juga layaknya gue ketika menikah kelak. Dan beliau cuman tersenyum, bilang nggak make yang macem-macem, yang biasa aja kayak orang-orang. Memang beliau cuma ngasi gue pantangan makan yang nggak berlebihan, ngasi gue minum jamu penganten biasa, cuma kunyit asem, cuma secang-kelengkeng, hal-hal umum dimana semua orang bisa mendapatkannya. Tapi faktor ketelatenan, kasih sayang, dan doa tulus yang gue yakin seyakin-yakinnya selalu di ucapkan oleh nenek, membuat hasilnya outstanding.
Semoga nenek bahagia disana.....
Rebusan di toples kecil, belum dimasukin buah kelengkeng

Rupa-rupa jamu penganten. Hasil rebusan yang digelas nggak ada fotonya

Monday, February 06, 2012

Red Lips

Jadi ceritanya, kemarenan gue abis pacaran sama kangmas dan iseng-iseng make make up. Pas pulang make upnya masih oke aja gitu, yaa... kalo berminyak mah merupakan hal yang wajar terjadi di muka sayah. Terus, ngeliat lipstik merah punya mama. Jadi iseng kepengen nyobain dandan make lipstik merah. Sebelomnya gue make lipstik merah waktu TK dan esde, yang mana di dandanin mamah buat karnaval dan sejenisnyah. Secara lipstiknya mama warnanya cuman merah, merah, dan merah lagi, jadi saya pun dipakein lipstik merah. Seudah gede, make lipstik merah kalo di dandanin pas acara kawinan pas jadi penerima tamu dan sejenisnyah. Berasa menor bener dan menua beberapa puluh tahun... -.-'
Dandanannya sebenernya terinspirasi dari hanna, yang waktu itu pernah posting tentang make upnya Elizabeth Taylor sebagai tribute. Ituh artis cantik beud, makanya sering disebut sebagai beauty icon. Beauty marknya adalah alis yang tebal dan lipstik merah. Beberapa referensi yang gue liat juga nyebutin eyeliner yang tebal juga salah satu trade marknya Liz. Mungkin karena dandanannya waktu maen jadi cleopatra kali ya...


Dan gue sebagai orang yang nggak bisa-bisa banget dandan, kelimpungan aja gitu gimana biar bisa mirip Liz.   Alis gue udah cukup tebel, kalo ditebelin lagi pake pinsil alis bakalan jadi sangar banget. Dan gue juga nggak bisa ngegambar alis, cuman bisa mempertegas bentuknya make pinsil alis tipis-tipis. Mau make False Lashes, nggka punya dan nggak bisa. Jadi gue cuman sok-sokan make eyeliner yang jadinya kepanjangan banget dan nggak smokey. Seadanya ajah. Haha.. *Ketawa Miris*
Kangmas sampe bengong ngeliatin gue dandan berikut hasilnya. Keliatan bitchy gitu kali yah. Tapi suka banget gue sama penampakan hasil dandan perdana ituh, dan kangmas bilang cantik. Serta menggoda. Huahahahahaha... Surprise dia ngeliat bininya dandan macem-macem. *Blushing*
Dan pas gue make jilbab karena nggak mugkin posting foto nggak make jilbab, gue berasa kayak ibu-ibu pejabat. Menor dan bertambah tua beberapa belas tahun. Padahal kalo nggak pake jilbab biasa aja. Atau karena di otak gue udah terpatri gambaran ibu-ibu dengan make up menor dan bibir merah, makanya gue secara nggak langsung menyamakan muka gue dengan mereka. Oh nooooooo!!!! *histeris*

Itu eyelinernya berantakan. He.. ;p
Mukanya oily, cuman di touch up doang soalnya, udah malem juga, jadi nggak fresh. *Haks* *Pembenaran*
Perabotan lenongnya:
- Face:
  • Lancome Genefique & Visionnaire
  • Oriflame Giordani Gold Adaptive Foundation Natural Beige
  • Oriflame Sublim Pressed Powder Natural
- Eye & Eye brow:
  • Viva Eyebrow Pencil Black
  • Oriflame 40 colour palette
  • Silky Girl Double Intense Eyeliner Black
  • Oriflame Eye Intensity Charcoal Grey
  • Oriflame Giordani Gold VIP olume Mascara Black
- Cheek:
  • PAC KD Star Lush Creamy Blush Groovy Burgundy
  • Oriflame Giordani Gold Bronzing Pearls Natural Radiance
- Lip:
  • Oriflame Tender Care
  • Revlon Living Lipstick Million Dollar Red

Saturday, February 04, 2012

Nasi Gila Ala Chef QQ

Piringnya belepotan karena bakasonya nggelundung
Setelah gugling sana sini dan penasaran banget sama nasi gila {karena kayaknya kangmas doyan banget, sejak pertama kali makan di sabang}, akhirnya kesampean masak sendiri juga. Nasi gila beda loh ya sama nasi goreng gila. Kalo nasi goreng gila kan nasi goreng yang campurannya banyak banget dan macem-macem, makanya disebut nasi goreng gila. Kalo nasi gila sebenernya nasi putih biasa yang disiramin lauk yang macem-macem. Singkat cerita, setelah iseng bikin, masukin apa segala macem dengan takaran seenaknya dan ingredients suka-suka gue, jadilah nasi gila tersebut. Alhamdulillah, kangmas doyan banget, makannya ampe nambah. Dan lauk gila yang semestinya bisa buat 3-4 orang, abis aja gitu sama kita berdua. Gimana nggak mau tambah maju nih perut. Hahahaha... :D
Dan gue lagi agak kurang kerjaan, jadi mau bagi-bagi resepnyah. Takarannya kira-kira alias make perasan, jadi icip-icip aja, boleh di tambah ato kurang sesuai selera.

Bahan-bahan:
  • Nasi Putih
  • Sosis 4 buah, potong-potong
  • Bakso 8 buah, iris 4 bagian {Kalo mau tambah bakso ikan dll juga boleh}
  • Telur ayam 2 butir, kocok dengan sedikit garam dan lada
  • 1 potong dada ayam, rebus sampai matang, suwir-suwir. {Nggak pake juga nggak apa}
  • Sawi Hijau / Caisim secukupnya
  • Minyak goreng secukupnya
Bumbu-Bumbu:
  • 1 siung bawang putih, geprek, cincang halus
  • 1/2 buah bawang bombay ukuran sedang, cincang kasar
  • 1 buah cabai merah besar, iris serong
  • 4 buah cabai rawit, cincang kasar {kalo nggak suka pedas boleh nggak pake}
  • 1 sdt garam 
  • 1 sdt Lada {boleh ditambah kalo suka pedas}
  • 1-2 sdm kecap manis 
  • 1 sdm kecap asin
  • 1-2 sdm saus Tiram 
  • 1 sdm saus sambal
  • 1 sdt Minyak Wijen {sebagai aroma, boleh nggak di pakai}
  • 1 gelas air
Pelengkap:
  • Bawang Goreng
  • Kerupuk
Cara bikinnya:
  1. Panaskan minyak, buat orak-arik telur. Sisihkan.
  2. Tambah sedikit minyak, tumis bawang bombay sampai setengah layu.
  3. Masukkan bawang putih dan irisan cabai, masak sampai harum.
  4. Masukkan sosis, bakso, ayam, dan telur.
  5. Tuang air dan masukkan lada, kecap manis, kecap asin, saus tiram, minyak wijen.
  6. Cicipi, kalau kurang asin, tambahkan garam secukupnya.
  7. Masak dengan api sedang sampai kuah mengental.
  8. Masukkan sawi hijau / caisim, besarkan api. 
  9. Aduk-aduk sebentar sampai sawi agak layu.
  10. Angkat.
Cara Menyajikan:
  • Taruh nasi putih di piring
  • Siramkan dengan Lauk gila.
  • Taburi bawang goreng
  • Sajikan dengan kerupuk
Gampang banget, dan enaak... Selamat menikmati....

Note:
Kapan gitu, sempet juga ditambahin sejenis tahu sumedang/pong yang di potong-potong. Nyumm... Enak juga. 

Thursday, February 02, 2012

Lancome Super Serums Duo

Imut banget botolnya
Ahaaayyy... Gue jadi salah satu pemenang giveawaynya hanna sponsored by Lancome *girang*. 
Jadilah, hari sabtu kemaren (29/01) gue dan kangmas meluncur ke Lancome yang di PS buat ngambil hadiahnya, Lancome Super Serums duo yang terdiri dari genefique & visionnaire. Nyampe PS, lagi ada Malique & D'essential yang lagi nyanyi di acaranya sogo, jadi ngeliat dulu deh. Dan emang dasar norak, secara jarang banget ke PS dan udah bertahun-tahun nggak kesana, buta arah dong gue. Buat nyari Atrium Metro aja kudu nanya satpam. Huahahahahaha... Katrok bener....
Di imel, hanna bilang harus ngambil sendiri hadiahnya karena akan pemenang harus melakukan skin consultation dulu agar beauty consultant bisa mengetahui kondisi kulit dan menyarankan cara pakai. Setelah gue nyampe ke podium Lancome yang dimaksud tanpa  nyasar, gue bingung. Kok kosong dan nggak ada yang jaga, cuman display produk gitu. Akhirnya memutuskan buat masuk aja ke Metro karena gue ngeliat ada booth Lancome di dalem yang ada mba'-mba'nya. Disana gue disapa dengan ramah dan gue langsung bilang mau ngambil hadiah dari blognya hanna. Mba'nya langsung nanya nama, minjem ktp, dan nyari nama gue di listnya. Abis itu di kasih deh produknya, kotak kecil gitu. Mba'nya cuman bilang, yang dipake genefique dulu, abis itu baru visionnairenya. Terus dia bilang, di coba aja dulu.
Baiklah... Katanya ada skin consultation? Well, gue nggak nanya siy tentang skin consultation ituh, karena nggak gitu ngarepin, dan ntar dibilang udah dapet gratisan, bawel lagi. Jadi gue cuman bilang makasiy, senyum, dan ngajak kangmas beranjak buat muter-muterin metro. Gue mikirnya gini aja siy, toh gue cuman dapet sampel, jadi nggak perlulah make skin consultation segala. Dan mungkin keliatan juga yak dari muka gue kalo gue nggak belum mampu beli produknya, jadi daya pakai gue cuman sebatas sample dan discontinue. Hwehehehehe...
Overall, gue seneng banget bisa nyobain produk yang bagus banget dan bermutu, walaupun samplenya kecil banget, {iyalah, kalo gede bukan sample namanya, cuman 7ml gituh} dan discontinue makenya. Maharani bo'. Hahahahaha.... Gue udah 4 kali make sample kemaren ituh, nggak teratur makenya karena males-malesan make skin care kalo nggak mau keluar rumah. Tapi beneran deh, hasilnya kerasa banget. Kulit gue rasanya lembab dan agak halus, walaupun berkali-kali dipake wudhu. Soal pori-pori dan kerutan gue nggak merhatiin, tapi pas kemaren ketemuan sama sahabat gue, dia bilang muka gue lebih bening dan cerah. Hahay... Jadi seneng... :)