Friday, January 13, 2012

Thursday Nite

Just stay at home, browse some cute blog design and "kepo" with any"twitwar" which is not important at all :))

Anyhow, Thursday night always remind me to my dearest granny.....
Karena hampir setiap malam juma't beliau pergi ke rumah ii di utan kayu untuk mengaji. Well, nggak cuma tiap malam jum'at sih, tapi kapanpun ada pengajian dan beliau di undang mengaji oleh ibu-ibu pengajian di utan kayu, beliau pasti mengusahakan untuk datang. Dan beliau selalu berusaha untuk tidak menyusahkan anak-cucunya. Sebisa mungkin beliau datang sendiri kesana. Sebelum Nang, adekku punya motor, nenek selalu berpergian dengan kendaraan umum seperti metromini, patas, dan sebagainya.
Naik Taksi?
Jangan harap beliau mau. Paling banter beliau mau naik bajaj. Dan ojek. Beberapa tahun belakangan kami punya tukang ojek langganan, jadi beliau selalu meminta kami menelpon si tukang ojek ini untuk menjemput nenek di rumah dan mengantarkan beliau ke tempat tujuan.
Setelah nang punya motor, nenek sering menelponnya untuk meminta di jemput dan di antar ke rumah ii, atau rumah nenek uti dan kai udin. Itupun dengan catatan, adikku tidak sedang ada acara. Kalau nang nggak bisa, nenek dengan santai naik kendaraan umum.

That's my granny.
She's 72 years old.
But she loves going with motorcycles.

Bisa dihitung jari nenek 'menggerecoki' anak-cucunya untuk mengantarnya kemana-kemana. Bahkan sepertinya lebih sering beliau pulang-pergi sendiri dengan kendaraan umum dibanding beliau menelpon untuk minta dijemput.

Tapi yang terus berputar di ingatanku adalah, setiap nenek ingin mengaji, beliau memintaku untuk menelpon adikku. Jika nang tidak bisa menjemput, maka yang ditelpon selanjutnya adalah tukang ojek. Lalu aku akan mengantarnya sampai ke pagar, membawakan tasnya, dan beliau akan bertanya. "nanti qq mau kemana? kalo ngggak kemana-mana, jemput ene ya?". Lantas beliau naik ke boncengan, membetulkan letak kain / gamisnya, dan meminta tasnya yang kubawakan. Kemudian aku mencium tangannya dan beliau berkata, "hati-hati dirumah ya. Jangan nakal. Nanti jemput ene ya..". Dan tukang ojek pun berlalu pergi...

Lantas malamnya, aku akan pergi menjemput nenek.
Ada atau tidak ada acara, ku usahakan untuk tetap menjemputnya, walau untuk itu aku harus pulang lebih awal, membatalkan pertemuan, atau apalah yang kadang tak bisa ku pungkiri membuatku memberengut kesal.

Satu hal yang selalu ku tanamkan dalam hatiku,
Beliau tidak pernah protes saat aku masih kecil dan harus mengantar jemputku di sekolah. Beliau tidak pernah menolak menemaniku kemanapun aku pergi, walau untuk itu waktunya habis tersita untukku dan beliau tak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri. Kenapa kini ketika aku sudah besar aku selalu hitung-hitungan dalam menemani atau mengantar jemputnya?
Aku tak akan pernah tau berapa lama lagi waktu yang ku punya untuk merawatnya. Jikalau hari ini permintaannya ku tolak, masihkah ada esok hari? Apa yang akan terjadi jika hari esok tak ada lagi untuknya?

Hari ini, malam jumat ini aku tak lagi menjemput beliau. Beliau sudah di jemput oleh Yang Maha Kuasa 52 hari yang lalu, tinggal di tanahNya yang suci.
Aku akan selalu merindukan masa-masa dimana beliau memintaku untuk menemaninya, menjemputnya. Belum seujung kuku baktiku untuk membalas semua jasa-jasanya untukku, beliau keburu pergi. Seumur hidup pun tak akan cukup untuk membalasnya...

Tuhan... Aku rindu nenekku...
Aku ingin berjalan menggenggam tangan keriputnya lagi. Aku rindu membawakan semua barang bawaannya. Aku rindu celotehan lugu beliau tentang betapa murahnya naik bajaj dibanding harus naik taksi. Aku rindu akan sosok rentanya yang berjalan tertatih namun selalu penuh semangat.. Aku rindu Ya Allah..

0 comments:

Post a Comment