Sunday, January 01, 2012

01 Januari 2012

Hari pertama di tahun 2012.
Hari ke-40 meninggalnya nenek tercinta.
Hari ke-62 sejak terakhir kali aku melihatnya, memeluknya, menciuminya, merawatnya.....

Aku merindukannya teramat sangat.
Segala tentangnya masih segar di ingatanku.
Betapa kasihnya tak pernah pudar.
Cintanya tak pernah berkurang.
Perhatiannya tak kalah dengan ibuku.

Beliau adalah ibu keduaku.
Yang merawat dan menjagaku ketika ibuku tak dirumah untuk mencari nafkah.
Beliau melakukan segala hal untukku, memandikannku, memasak untukku, menyuapiku, mengajarkanku pelajaran agama, mengantar dan menjemputku ke sekolah dan madrasah, bahkan beliau tak canggung mencatat pelajaranku ketika aku tak masuk sekolah.

Betapa besar pengorbanannya untukku dan juga adikku.
Saat dimana teman-teman beliau bebas pergi mengaji, tak jarang waktu belaiu dihabiskan untuk menjagaku dan adikku. Ketika kami sudah agak besar, beliau tak segan mengajak kami, walau untuk itu beliau harus menyiapkan dan membawa segala kebutuhan kami dalam tasnya.
Ketika kami masuk pesantren, beliaulah yang menangis tersedu-sedu karena tak tega melihat cucunya jauh di rantau orang.
Kemanapun beliau pergi, ketika beliau melihat apapun yang kami, anak-anak dan cucunya suka, sebisa mungkin akan dibawa pulang. Apalagi kalau menyangkut penganan, walaupun beliau sendiri sangat menyukainya, tak pernah ku lihat beliau memakannya sendiri. Selalu diberikan untuk kami, anak-anak dan cucu-cucunya.
Ketika ibuku tidak memasak, yang ditanyakannya adalah aku ingin makan apa.
Ketika akan keluar rumah, beliau pasti menanyakan tujuannya, untuk berapa lama, kendaraannya apa, dengan siapa, dan pulang jam berapa. Bukan karena beliau ingin ikut campur, tapi lebih karena sayangnya, hingga beliau terlalu khawatir saat kami berada di luar rumah.

Hingga detik ini, setiap sudut rumah selalu mengingatkanku dengannya, berharap beliau muncul dengan tiba-tiba dan melakukan kegiatan yang biasa dilakukannya. Setiap perjalanan membuatku merindukannya. Setiap pulang ke rumah aku [masih] berharap beliau yang menyambutku seperti biasa. Dengan wajah teduh ketika sedang mengaji di teras, dengan wajah berpeluh ketika sedang mengurus pepohonan di depan, dengan wajah tak acuh ketika sedang serius dengan sinetron kesayangannya, atau dengan wajah marah bercampur khawatir ketika aku terlambat pulang.

Setiap kamis sore aku [masih] berharap beliau memintaku mencari ojek atau bajaj untuk mengantarnya ke rumah tanteku untuk mengaji dan mendengarnya memintaku untuk menjemputnya jika aku tak sibuk. Tuhan, aku masih belum puas mengantar jemputnya.
Tak seujung jaripun baktiku mampu membalas cinta dan segala yang telah dilakukannya untukku...

Aku [masih] menginginkannya ada di sampingku. Belum cukup aku membahagiakannya. Masih banyak yang ingin ku lakukannya untuknya. Masih banyak yang ingin ku lakukan bersamanya..

Tapi Allah lebih menyayanginya ketimbang kami. Allah memanggilnya dalam keadaan suci, setelah menunaikan ibadah haji tanpa satupun yang di badal. Allah membiarkannya tetap berada di tempat yang paling suci di dunia. Betapa RahmatMu untuk beliau begitu besar Ya Allah...

Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa'aafihaa wa'fu'anhaa wa akrim nuzulahaa wawassi'madkhalahaa waj'alil jannata maswahaa. Allahumma laa tahrimna ajrahaa wa laa taftinna ba'dahaa waghfirlanaa wa lahaa....

Ya Rabb..
Ikhlaskan dan lapangkan hati kami, yang selalu menyayanginya. Kumpulkanlah kami dengannya kelak di syurgaMu Ya Allah....


Almh. Hj. Siti Laihanah T.S & Almh. Juwariyah
Nenek & Mbah Tersayang

0 comments:

Post a Comment