Tuesday, April 21, 2009

Kartini Versi Gue =p

21 april di Indonesia identik dengan hari kartini. Hari dimana seorang perempuan bernama kartini di lahirkan… (kayaknya orang bego juga tau deh. Wakakak =)

Yang gue inget kalo gue denger hari kartini adalah karnaval. Hehehe…. =p

Iyah, buat gue hari kartini identik dengan para anak-anak kecil make baju-baju tradisional dan karnaval. Keliling-keliling, capek juga pastinya. Tapi entah kenapa [waktu itu] rasanya seneng banget. Walaupun jujur, nyokap gue nggak punya cukup uang buat nyewain gue baju tradisional ataupun beliin gue baju tiap karnaval. Jadi kostum karnaval gue dari taun ke taun sama aja. Baju kuning manik-manik dan kain songket punya nyokap. Ditambah gelang-gelang dan kalung emas bohong-bohongan plus bando bunga-bunga kuningan gitu. Gue nggak tau itungannya tradisional, modern, nasional, atau adat apalah, nggak jelas juga, tapi ya begitulah. Intinya gue bisa ikut karnaval sama kayak anak-anak normal yang lain (kayak gue bukan anak normal ajahhhh).

Waktu kecil nyokap pernah bereksperimen makein gue baju adat bali (ceritanya). Gue di pakein selendang panjang songket warna merah punya mama. Dililit gitu aja. Terus hiasan kepalanya mahkota burung dari kertas. Bawa kipas bulu-bulu en make sandal etnik. Simpel dan nggak keluar uang banyak tapi hasilnya lucu… Untungnya waktu kecil doang gue dipakein baju kayak gituan. Nggak kebayang kalo misalnya dipakein waktu TK gitu. Beuuhhhh…. Malu sangadh…… ^^

Pernah juga siy waktu itu dari sekolahan nyuruh gue pake baju adat minang. Nyokap akhirnya semaleman usaha bikin hiasan kepala bentuk tanduk khas minang itu dari karton (biar bentuknya bagus dan nggak meleyot), terus setelah jadi baru dililit selendang songket.

Jadinya sumpah, keren banget. Waktu itu gue ngerasa hiasan kepala buatan nyokap gue yang paling keren. Tanduk minangnya itu kokoh dan bentuknya nggak berubah. Sedangkan temen2 gue yang lain bentuknya tuh nggak kokoh dan nggak sekeren tanduk gue karena cuman selendang dililit gitu doang di kepala. Haha…. Nyokap gue keren banget deh pokoknya. Luv u mom… *cium pipi mama*

Setelah gue agak gede dan ngerti latar belakang hari kartini, barulah gue usaha buat memahami arti perjuangan kartini (walo emang nggak ngerti-ngerti banget sampe sekarang. Gue rasa yang salah bukan guru-guru gue di SD, tapi emang otak gue yang korslet). Gue juga pernah baca buku kartini yang judulnya habis gelap terbitlah terang ituwh (gara-gara di suruh bikin resume juga siy). Tapi karena gue nggak niat banget, jadilah sekarang tuh buku nggak tau kemana dan gue juga lupa deh tentang latar belakang kertini. Yang gue inget cuma dia lahir di jepara, dan nggak lama meninggal setelah ngelahirin anaknya gitu deh.,..Terus kartini tuh pelopor persamaan hak kaum perempuan pada masanya… (gue harus cari tau lagi nih, ingatan gue tumpul banget).

Sekarang kan banyak tuh tokoh perempuan yang disebut kartini masa kini. Nggak cuman tokoh juga, perempuan-perempuan yang memperjuangkan perubahan, perempuan yang berjuang untuk sesuatu, atau apalah yang unik-unik dan nggak lazim gitu, banyak yang di sebut kartini masa kini juga.

Tapi kartini buat gue, artinya mama, ii, dan nenek gue.

Mereka kartini sejati buat gue. Inspirator hidup gue. Perempuan-perempuan yang paling hebat di mata gue. Perempuan-perempuan yang paling sempurna dengan segala ketidak sempurnaan mereka. Karena mereka gue ada dan bisa seperti sekarang ini.

Mereka dunia.

Cinta.

Orang tua.

Keluarga.

Sahabat.

Pelindung.

Guru.

Panutan.

Segalanya bagi gue.

Mereka ada dalam artian yang berbeda, tapi seperti kepingan puzzle yang saling melengkapi. Kartini yang mana kalau gue diminta untuk mengorbankan salah satu di antara mereka, nggak akan pernah bisa gue lakuin.

Misalnya waktu gue wisuda kemaren. Gue cuman dapet 1 undangan dan berlaku untuk 2 orang. Sampe jungkir balik gue usaha gimana caranya gue bisa dapetin undangan satu supaya mereka bisa masuk gedung. Gue nggak mau salah satu diantara mereka nggak bisa nyaksiin salah satu momen penting dalam hidup gue yang mana bisa gue dapetin karena jerih payah dan usaha tanpa pamrih mereka juga. Dan gue berhasil… =D

Mereka nggak perlu tau gimana gue sampe nangis darah ngusahain berbagai cara buat ngedapetin undangan dan gue juga nggak akan pernah mau bilang betapa gue hampir putus asa. Yang perlu mereka tau adalah ada cukup undangan buat mereka menyaksikan gue (yang nyusahin dan nggak guna ini) wisuda. Senyum bahagia mereka udah lebih dari cukup untuk ngebayar usaha gue yang nggak ada seujung kuku dari apa aja yang telah mereka lakuin untuk gue selama ini.

Dan untuk mereka, kartini-kartini versi gue, rela gue lakuin apa aja untuk ngebahagiain mereka, rela mati-matian usaha buat bikin mereka setidaknya sekali saja dalam seumur hidup mereka ngerasa bangga memiliki gue sebagai bagian dari mereka [walau gue sadar sesadar-sadarnya nggak ada yang bisa dibanggain sedikitpun dari diri gue, tapi setidaknya gue berusaha semaksimal mungkin untuk nggak bikin mereka malu].

Love you all,…

My own kartini

Sunday, March 22, 2009

*none*

Sobat..
Katakan saja kau tak sendiri.
Bilang saja kalau ingin pergi.
Ungkapkan saja yang ada di hati.
Jangan hanya bisa berlari,
Atau coba bersembunyi
Seolah aku tak berarti.
Jangan fikir aku tak mengerti.
Nyatanya ku coba fahami,
Meski dalam tanya yang kau beri.

Saturday, March 14, 2009

Penjara Suci















Wednesday, March 11, 2009

Unimportant Welcome Greeting

Welcome to my blog…


Well, ucapan selamat datang yang nggak penting kayaknya. Haha…
Aturan kan ucapan selamat datang tuh di postingan pertama. Bukan di postingan kesekian kayak yang gue lakuin ini. Lagian kalo dipikir-pikir, nggak penting juga gue bikin welcome post kayak begini. Buat
siapa kah ucapan selamat datang tersebut di tunjukkan? Secara gue nggak pernah berniat untuk mempublikasikan blog gue =p


Terus, ngapain gue bikin blog kalo bukan untuk mempublikasikan sesuatu?
Yah, sebenernya gue nggak pernah berniat buat publish something kayak gini. Gue bikin blog cuman gara-gara
kepengen punya aja. Kayaknya keren deh kalo punya blog. Orang-orang aja pada punya kenapa juga gue nggak bisa punya?
(Kayaknya alesan gue adalah alesan yang paling
nggak penting dan paling nggak masuk akal dalam sejarah pembuatan blog. Wkwkwk…)
Sama kayak waktu gue bikin friendster en facebook. Gue bikin cuman karena gue pengen punya ajah.
Nggak penting kan??


Karena alesan gue bikin blog sangat amat nggak penting, makanya gue sendiri bingung blog perdana gue ini mau di isi apaan. (Nggak perdana juga siy sebenernya, gue pernah bikin di friendster. Tapi udah males buka-buka friendster lagi). Gue bukan sejenis orang yang hobi ngereport sesuatu. Bukan juga tipe pengamat yang demen menganalisa. Bukan fotografer, atau web designer atau apalah pekerja seni yang bisa publish karya seninya di blog. Bukan juga mau buka toko online. Idup gue biasa-biasa aja, standar manusia yang rada-rada dudul pada umumnya lah. Nggak gokil kayak idupnya si kambing jantan. Sehingga gue mengalami kesusahan yang amat sangat dalam sesi pengisian blog ini. *Gue ngomong apaan sih?*


Pengen ngutek2 tampilannya biar keren juga masi ngeraba-raba. Secara gue buta banget soal beginian. Ada yang mau ngajarin gue nggak biar blog gue keren? (dengan syarat utama harus punya tingkat kesabaran yang quadruple dari pada yang di punyai manusia pada umumnya dikarenakan kedodolan gue dalam mencerna sesuatu dan ke nggak sabaran gue dalam mempelajari sesuatu). Ato biar gampang aja deh, siapa kek gitu bikin keren blog gue. Gue tinggal tunjuk-tunjuk doang maunya kayak gimana. Jiaahhhhh……… Ngarep bener yak…. =p


Pada akhirnya gue harus minta maaf sama diri gue sendiri karena ngisi blog ini dengan hal-hal nggak penting yang entah sengaja entah enggak muncul dengan sendirinya dari otak gue. Wajar juga siy menurut gue. Alesan bikin nggak penting yang mengakibatkan isinya juga jadi nggak penting. Hwahahahaha…… =D


Sutralah……
Sekian welcome greet dari gue (yang setelah gue baca ulang ternyata [bener-bener]
nggak penting). Tapi teteplah gue post juga...
Biar blognya
makin penuh sama hal-hal nggak penting. Wakakakakak…… *Ngakak guling-gulingan dengan gaya nggak penting*

Saturday, March 07, 2009

Kepingan yang tersisa....


-->
Dan Aku Menyerah Pada Kenangan

Ini sajakku kepadamu, sajak tentang kenangan manis bersamamu

sesuatu yang hilang, sudah kita temukan
walau mimpi ternyata, kata hati nyatanya

bagaimanapun engkau harus kembali
Walau berat aku rasa aku mengerti
kusimpan rinduku jadikan telaga
agar tak usai mimpi panjang ini
air mata nyatanya
sampai pada berapa lama, kita akan bertahan?”

Dengan siapa aku bersekutu
bila sayapku berpatahan?
Lalu, bagaimana aku merindu akan temu?

Pada ruang, pada waktu, aku ingin datang
Mari kita tanami langit
dengan harapan putih-putih,
yang akan melahirkan pelangi syahdu
yang agung sebagai kenangan manis

Aku mengatakan untuk yang penghabisan :
Ada yang menghitung detik api,
sepeti yang pernah kita lihat,
tatkala hari-hati merangkak
menakjubkan bahkan mendukakan
tetapi itu usai

Ada fajar tak terselesaikan,
sungai ngalir tak terselesaikan,
ada tangis tak terselesaikan,
ada kata tak terselesaikan,
kurangkul tubuh alam tak terselesaikan,
kisah kita tak terselesaikan

jangan pernah memintaku layu,
sekalipun dengan musim semi di matamu
sebab apa yang dirampas dari ladang,
kesepianku
hanya sedikit dari sekian banyak tafsir akan
Rahasia dan kesetiaan”

Aku menghayati langit,
begitu pula aku menghayati kenangan
Aku menghayati pelangi,
menghayati bintang-gemintang
begitupun aku mengenang kau di Surakarta
tertikam sepi koyak moyak : Moksa

malam tinggal sekerdip redup langit, selamat jalan
dan aku mengenangmu semusim-semusim

Surakartaku senyap, 1 Mei 2002 01.04
Oleh: Huda Ariyanto

Tertipu yaa???
Huehehehehe…. Nggak mungkin banget orang seidiot gue bisa ngerangkai kata-kata seindah itu. Kemampuan otak gue terbatas. Sense of art gue juga rendah. Makanya gue mengagumi banget manusia-manusia dengan sense of art yang tinggi dan menghasilkan karya yang berseni. Gue nggak ngerti seni, blass. Gue nggak bisa nilai bagus enggaknya sebuah lukisan abstrak. Gue nggak bisa maen alat musik dan bodoh banget soal tangga nada. Gue nggak bisa bikin puisi ato syair yang indah. Tapi gue menikmati apa yang bisa gue nikmati. Sesuatu yang kadang nggak bisa gue ungkapin, tapi rasanya dalem banget… Emang kadang-kadang ada banyak yang nggak bisa dideskripsikan. Cuma bisa dirasain….

Puisi di atas tuh karya salah seorang ustadz di assalaam. Gue sukaaaaaa banget. Kalimatnya unik, implisit, tapi maknanya buat gue dalem. Tuh puisi ada di cover belakang agenda angkatan 2002 alias angkatan ke XVI. Angkatan gue pastinya. Yang bikin puisi itu lebih ngena lagi adalah latar belakangnya dimana puisi itu ada. Gambar masjid Assalaam saat malam. Sepi, tapi terang benderang. Sunyi, tapi terkesan hangat dan syahdu. Setiap gue menatap gambar itu, plus ngebaca puisi diatasnya, gue terenyuh dan otomatis gue bernostalgia akan masa-masa waktu di pondok. (Kayaknya kalimat gue terkesan menye’-menye’ mendayu nggak penting gitu =)

Bagi sebagian orang mungkin basi. Udah nggak jaman inget-inget assalaam, atau bahkan mengarah ke anti terhadap tempat tersebut. Gue akui, banyak kejadian pahit di dalam sana. Tapi banyak juga nilai-nilai dan kenangan yang gue dapet di sana. Persahabatan, kebersamaan dan persaudaraan adalah sebagian hal yang mungkin nggak akan gue temui kalo gue nggak masuk sana. Kenakalan-kenakalan dan kekonyolan yang nggak jarang nimbulin sensasi aneh di hati gue, bikin gue pengen kembali mengulang beberapa bagian tersebut meskipun mungkin gelap. Dan kalo boleh, gue mau ngutip sebaris kalimat tentang gelap yang ada di salah satu novel favorit gue, 5cm. (See, gue cuma penikmat. Buat ngerangkai kalimat bagus aja nggak bisa =)
“Sebuah cerminan masa-masa bahagia yang gelap karena walau bagaimanapun dengan cara apapun kita nggak akan bisa kembali lagi ke masa itu. Masa yang nggak akan tergantikan oleh apapun. Jadi biarkan saja gelap, yang penting kita pernah sama-sama di gelap bahagia sana. Pernah sama-sama bego, bahagia, coba-coba, dengan electric youth masing-masing yang ajaib. Apapun yang di lakukan nggak pernah salah karena kita semua lagi belajar. Tentang apa aja dan siapa aja.”

Assalaam salah satu tempat yang ngajarin gue banyak hal. Bahwa hidup tuh nggak selalu hitam atau putih. Bahwa nggak semua kebaikan mudah untuk dijalani. Bahwa semakin dewasa seseorang, semakin banyak pula godaan hidupnya. Bahwa cinta pertama bisa jadi begitu menyakitkan. Bahwa untuk mendapatkan sahabat sejati nggak semudah membalik telapak tangan. Bahwa perbedaan strata sosial bisa terjadi dimana saja. Bahwa “dibatasi” membuat jaringan otak menjadi lebih kreatif. Bahwa ketika mulai remaja, yang dominan bukan hanya testoteron atau progesteron, tapi juga adrenalin. Bahwa jadi tersangka utama dan di blacklist bagian keamanan mempunyai satu kenangan tersendiri. Haha… =D

Mungkin pada saat di dalam sana, yang gue dan banyak individu di dalamnya lakukan adalah menghitung berapa lama lagi waktu yang harus kita habiskan untuk bisa keluar utuh dari sana. Tapi ketika gue udah menghirup udara bebas, yang gue hitung adalah berapa banyak kenangan yang mampu gue ingat.

Ada banyak kenangan. Yang nggak jarang sangat amat gue kangenin. Misalnya pada saat gue ngerasa sepi, gue selalu terkenang akan suasana kamar rayon di malam hari. Sesepi apapun perasaan gue, sesunyi apapun malam itu, tapi gue nggak pernah sendiri. Saat gue terbangun tengah malam, gue nggak pernah mendapati gue sendirian, selalu ada banyak teman di samping gue. Dan entah kenapa keadaan itu bikin gue nyaman. Bahwa gue nggak sendiri. (Nggak usah protes deh, gue tuh emang aneh). Huehehe…. =p

Atau bau terasi. Mungkin emang amat sangat nggak penting. Tapi pada waktu kelas gue di belakang masjid (posisi putri masih di utara dan putra masih di selatan. Dan jangan tanya soal arah lebih lanjut sama gue. Gue buta arah!!), setiap pagi aroma terasi untuk sambel sego kucing buatan bu dal tuh selalu menguar keseluruh kelas. Bikin perut keroncongan dan nggak sabar nunggu waktu istirahat. Apalagi nggak lama kecium bau ikan bandeng di goreng. Tergoda nggak sih? Sekarang kalo nyium bau terasi gue suka senyum-senyum sendiri. Betapa nggak pentingnya kenangan itu. Tapi kenapa gue inget terus ya? =D

Sesuatu yang cukup historikal dan melekat di otak gue salah satunya adalah kitaro. Nggak familiar? Tapi kalo gue ngomongin soal musik pengiring ketika pelantikan op, pelantikan konsul, ataupun ketika wisuda, pasti ngeh. Tuh musik instrumental nempel banget di kepala gue. Waktu kelas satu mts, betapa gue terpana menyaksikan pelantikan op. Kesannya tuh gimanaaa gitu. Dilanjutkan menghadiri pelantikan konsul, dan ngintip acara wisuda. (Yang mana waktu itu terakhir kali pelantikan op dan pelantikan konsul digabung antara putra-putri, jadi kesan historisnya lebih ngena lagi). Yang paling gue bayangin ketika itu adalah ketika gue masuk gelora dengan toga diiringi instrumen kerennya kitaro ketika wisuda. Kayaknya tuh khidmat banget. Tapi nyesek deh. Waktu gue wisuda iringan musiknya gending!!! Parah dan nyeleneh banget. Impian kekhidmatan wisuda selama 6 tahun buyar berkeping-keping. Yang ada pada otak gue ketika masuk gelora adalah : Gue ada di acara kawinan siapa ya??? Sedihhhh…… =’(

Ketika lulus, gue nyari banget tuh kaset. Yang gue tau cuma kitaro. Gue nggak tau album keberapa, atau apa lah. Setelah lama banget berburu diiringi rasa penasaran yang menjulang, akhirnya dapet juga. 2 biji lagi. Satu dikasih temen deket gue yang tau gue nyari banget tu kaset. Bukan buat apa-apaan, tapi buat mengenang assalaam. Dan mengenang wisuda gue yang nggak penting itu. Hhhhhh… Berasa bukan wisudawati, tapi mempelai wanita T.T

Dua lukisan alam yang nggak akan gue lupain dan mungkin jarang gue temuin tapi gue dapetin di assalaam adalah bulan merah jambu dan sore yang kuning. Waktu denger lagunya kla project yang judulnya tak bisa ke lain hati, gue bingung. Kan kalimat pertamanya tuh “bulan merah jambu, luruh di kota mu”. Gue nggak pernah kebayang kalo bulan tuh warnanya pink atau merah jambu. Yang gue tau warnanya putih keperakan, atau kalo purnama putih keemasan dan lingkaran halo-nya aja yang berwarna warni. Tapi pada suatu subuh, yang mana gue masih ngantuk berat, tapi gara-gara takut di booking dan males kena ta’lim gue berangkat juga ke masjid. Dan gue nggak nyesel. Subhanallah… Untuk pertama kalinya gue ngeliat bahwa bulan tuh bisa berwarna merah jambu. Gue terpana, nggak kedip dan sepanjang jalan didepan gelora menuju masjid gue cuma ngeliatin lukisan maha karya alam itu dengan ternganga. Subhanallah… Bulan yang sedang purnama, berwarna merah jambu pucat melayang dengan indahnya dilatar belakangi langit yang hitam pekat, kerlip ribuan bintang dan gelapnya bayangan pepohonan plus tiang bendera yang menjulang. Sampai detik ini, gue belum pernah ngeliat lagi bulan berwarna merah jambu dan pemandangan semenakjubkan itu. Silahkan bilang gue norak, tapi jujur. Pemandangan itu benar-benar menyihir gue. Dan kemudian menyadari bahwa katon bagaskara nggak ngarang. Hehe… =D

Satu lagi, sore yang kuning. Gue jarang nemu tuh, apalagi di Jakarta. Sore tuh cenderung gelap. Kelam. Langit yang merah, jingga, atau lembayung. Kalo lagi mendung berat palingan langsung gelap gitu aja. Tapi waktu di assalaam, gue terpesona sama sore yang kuning. Bener-bener kuning. Dan kejadian kayak gitu jarang banget. Jadi suasana pada sore menjelang maghrib itu dikuasai kuningnya matahari. Gue suka banget. Kesannya warm, dan mengagumkan. Berkali-kali gue mengucapkan subhanallah untuk pemandangan luar biasa yang gue rekam benar-benar di otak gue. Semuanya memantulkan cahaya kuning. Lapangan basket. Dinding kelas. Koridor rayon. Kursi taman. Pohon belimbing di lapangan voli. Halaman depan kapatri, semuanya. Manusia-manusia di bawahnya pun tertimpa warna kuning.

Mau bilang gue ngarang atau mendramatisir suasana? Sok atuhhh. Tapi buat gue, itu indah banget. Nggak jarang gue kangen sama sore yang sendu kayak gitu. Sore tuh dimana semua aktivitas mulai berakhir. Pulang les, muhadhoroh, pramuka, atau apalah. Ada teriakan-teriakan di kamar mandi yang antri, bau sabun mandi yang bercampur dengan aroma makanan mengepul yang baru di antar, suara air dan perasan cucian di reservoir, orang-orang berlalu lalang, aktivitas di depan kamar,lapangan basket, duduk-duduk di kopel, atau kerumunan di kantin. Semuanya dibalut warna kuning. Andaikata kehidupan di assalaam tuh film, sore kayak gitu bakal jadi salah satu best scene versi gue =)

Ngomongin assalaam, selalu panjang buat manusia mellow plus norak kayak gue. Hehehe… Nggak cukup kata untuk ngegambarin enam tahun yang gue habiskan disana. Dan bener, gue sering banget menyerah pada kenangan. Gue bukan terobsesi pada masa lalu, tapi ada saat dimana gue nggak kuasa melawan kenangan yang datang menghantui kehidupan gue. Dan kalo gue udah kangen banget, obat gue yang paling mujarab ada empat. Agenda, foto-foto, musik, dan sahabat. Sahabat selalu bisa menenangkan gue. Bahwa gue nggak kangen sendiri. Foto-foto dan musik bisa bikin gue ketawa, menitikkan air mata, atau ketawa sambil nangis. Bukti bahwa gue pernah di sana. Serta agenda Mts plus Smu. Walo udah pada lepas-lepas, tapi penting banget untuk melacak, mengingat dan bersilaturahmi dengan individu-individu di dalamnya.

Kalo gue nyebut assalaam, gue yakin ada banyak pembahasan atau pandangan yang bermunculan. Pro- kontra, negatif – positif. Tapi satu yang terpatri di otak gue. Seburuk apapun yang terjadi, kalo gue bisa menyikapi dengan benar, pada suatu waktu akan terasa indah. Sepait apapun yang gue alami di sana, sekarang jadi kenangan manis yang akan gue ceritain ke anak cucu gue nanti =)

Qq listen to:
- Sebuah Kisah klasik, Sheila on 7
- Ingatlah Hari ini, Project Pop
- Sahabat, Nidji
- I’ll Be There For You, The Rembrandts
- Graduation (Friends Forever), Vitamin C
- Good Bye, Spice Girl

Saturday, February 28, 2009

Miss You...


Kangen tuh apaan sih?

Pertanyaan nggak penting yang muncul tiba-tiba karena gue lagi iseng plus nggak ada kerjaan di tengah malem dan nggak ada yang bisa gue isengin. Mungkin juga karena gue lagi ngerasa kangen. Anehnya nggak tau kangen sama apa atau sama siapa. Kangen aja. Aneh kan???

Lepas dari kata kangen yang di jadiin nama grup band, kangen juga pernah jadi judul lagunya dewa 19. Lupakan info barusan yang mana gue yakin semua orang udah pada tau =)

Balik lagi ke pertanyaan tadi. Kangen tuh apaan sih?

Yang gue tau, kangen tuh sinonimnya sama rindu. Sahabat gue waktu gue tanya kangen tuh apaan dia jawab ”Kangen tuh perasaan pada saat lo merindukan sesuatu atau seseorang.” Nggak ngejawab banget deh. Bisa dibolak baik tuh. Rindu apaan sih? Rindu tuh perasaan pada saat lo kangen sama seseorang. Wakakakak…. =D

Tadinya gue bermaksud ngebuka kamus besar bahasa Indonesia buat cari tau arti harfiah dari kata kangen. Tapi gue baru inget dua detik kemudian bahwa gua nggak punya tu kamus yang mana ternyata penting banget buat di punyai. (kalimat gue bakal di koreksi abis-abisan sama guru bahasa Indonesia =)

Ada yang pernah nanya sama gue (tapi kayaknya tuh pertanyaan lebih pas kalo dia tanyain ma dirinya sendiri). ”Kenapa sih bisa kangen? Padahal kan baru sekali ketemu?”
Kalo kata gue sih ya bisa aja. Jangankan baru sekali ketemu, yang belom pernah ketemuan aja bisa ngerasain kangen. Misalnya kayak orang yang chatting atau pacaran online. Belum pernah ketemuan tapi bisa kangen-kangenan kan?

Gue jadi mikir…
Kangen tuh berbanding lurus sama keilangan nggak sih? Pada saat keilangan apa gitu, ada kemungkinan buat kangen kan?
Misalnya buat orang yang pacaran di dunia maya. Seringnya kan ym-an, ato apalah gitu. Pas lagi nggak bisa online jadi berasa ada yang ilang, terus timbulnya kangen deh. Terus waktu keilangan orang yang disayang. Nggak mungkin banget nggak kangen. Ato pada saat udah pada gede dan harus bersikap layaknya manusia dewasa pada umumnya, gue yakin banyak banget orang yang kangen sama masa kecil dimana semuanya tuh keliatan nyenengin. Contohnya lagi yang terjadi pada diri gue. Gue kan doyan banget sms-an. Pada saat gue nggak punya pulsa, idup gue merana banget. Ada yang ilang dari gue. Selalen ilang pulsa ya ilang kebiasaan mencet-mencetin keypad hape. Jadi kangen deh. Hahaha.... =D *nggak nyambung*

Makanya, menurut gue kangen tuh nggak cuma tentang manusia atau benda, tapi juga tentang momen dan suasana. Kayak gue yang selalu kangen ngeliat hamparan sawah dari teras lantai dua masjid assalam. Sumpah, adem banget rasanya. Tenang… Sedihnya tuh sawah udah nggak ada dan sebagai gantinya muncul rumah-rumah yang nggak penting banget buat diliat dan bikin gue makin sadar akan keserakahan manusia yang jarang banget adil sama alam.

Kalo bisa gue umpamain, rasa kangen tuh kayak lubang hitam. Rasanya aneh. Nggak ada tanda-tandanya. Datengnya tiba-tiba, tapi ilangnya lama bener. Ato bahkan nggak ilang-ilang dan perlu ditambel. Nggak tau juga nambelnya pake apaan, makanya kangen mulu. Terus kayaknya gimana gitu. Campur-campur antara sepi, hampa, keilangan, sama rada-rada gila (yang terakhir cuma terindikasi pada orang-orang tertentu =)

Nggak bisa gue deskripsiin.

Selaen gue adalah sejenis manusia yang memiliki kadar Iq biasa-biasa aja, kemampuan verbal gue juga begitu deh. Makanya gue salut banget sama penulis-penulis yang bisa ngedeskripsiin dengan jelas apa yang mereka mau sampe para pembacanya tuh bisa ngerasain hal yang mereka deskripsiin dan terucap, “Gila, kok bisa sih nih orang ngejabarin apa yang sebenernya gue rasain tapi nggak bisa gue jabarin.” Keren ya…
Well, emang gue kagak bakat nulis *Sigh*

Balik lagi ke kangen. Gue paling bete kalo lagi kangen. Soalnya nggak jelas gitu sih. Bikin gue yang pada dasarnya moody berat jadi tambah nggak juntrung. Berasa ada yang ilang. Masih bagus kalo gue nyadar sama apa yang gue kangenin. Kalo mungkin ya cari obat kangennya ampe ketemu. Yang nyebelin kalo obat kangennya udah kagak ada. Ato yang lebih parah, nggak mungkin bisa jadi obat lagi. Sengsaranya… Paling banter gue akhirnya cuma bisa narik napas sambil mengumpat atau misuh-misuh sama orang-orang terdekat gue. Hwahahaha…. Nggak penting banget deh.

Dan yang paling aneh dari kangen yang kadang menurut gue nggak penting itu (karena seringnya nyiksa), adalah pada saat tiba-tiba gue ngerasa kangen, tapi nggak tau sama apa dan siapa. Hwahh!!! Gue bisa tiba-tiba bengong gitu. Mempertanyakan ketidak sinkronan antara otak dan perasaan gue.
Apa emang dari dulu otak gue nggak pernah sinkron sama perasaan gue ya’? *Mikir Mode On*

Saturday, February 21, 2009

Kamu Tak Termiliki


Aku pernah bermimpi menjumpaimu di penghujung hari, ditemani semburat jingga dari mentari yang pulang ke peraduan.

Entah kenapa raut mu sendu. Menghujamkan pertanyaan kelam di dasar hati. Adakah pertanda bahwa waktu kita berakhir? Dan letih yang menggelayut itu lantaran kamu menyerah dengan keadaan?

Aku tak bertanya. Kamu hanya menatap. Langit semakin gelap.

Tiba-tiba kamu mendekapku. Erat sekali. Mataku memanas walau dekapmu terasa nyaman.

Sedetik kemudian kamu mengecup keningku pelan. Lembut. Sehingga aku terpana. Inikah saatnya?

Lantas kamu pergi.

Dalam helaan nafas aku terkesiap.

Masih terasa harum mu di semilir bayu yang ku hirup.

Masih kulihat bayangmu dalam naungan senja yang memerah.

Dan aku terbangun dengan isak tertahan.

Hanya mimpi ternyata.

Tapi menyesakkan.

Mendapati bahwa dalam mimpi pun kamu tak termiliki.