Sunday, May 06, 2018

Bilal : 26 Bulan


Bilal di usia yang kedua tahun 2 bulan ini alhamdulillaah makin cewewet alias bawel. Kosa katanya makin banyak, bukan cuma menyebutkan ujung-ujung kata aja. Sudah bisa tanya, “enek ana? Kakak ana?”, kalau ditanya sudah ngerti menjawab “kakak kuwah (sekolah), enek giii (pergi)”. Sudah bisa minta macem-macem, kadang bahasanya bisa dimengerti, kadang ngoceh sendiri dalam bahasa entah apa.

Sudah bisa teriak dan ngelawan sama kakaknya, sering ujungnya dia kalah dan nangis tapi udah bisa banget deh mempertahankan maunya. Kadang kabur, kadang dipegang kenceng-kenceng. Sukanya main di balik kursi sama kakak, kalo udah ngerusuh berdua seru banget ketawa cekikikan. Apalagi kalo urusan loncat-loncat di kasur dan dari kasur, udah kompak pake banget. Hhhh...

Giginya alhamdulillah udah hampir lengkap, sisa taring bawah kanan belum keluar. Geraham kedua juga belum keluar semua. Berat badan ya cukuplah, walaupun untuk sepantaran Bilal agak kurang. Apalagi kalo lihat berat badan kakaknya dulu. Hehehe... Masalahnya masih di makan, cuma mau makan bubur instan, nasi kadang-kadang banget. Buah sering dilepeh, sayur yang lahap cuma wortel dan brokoli. Sungguh, saya berharap semakin besar makannya makin pintar seperti Alif. Bilal lebih suka ngemil, suka roti, coklat dan yang manis-manis, kebalikannya Alif. Tapi kalau menunya mie, lahap bener.. Waktu hamil emang saya doyan bener sama mie, nampaknya menurun ke Alif Bilal 😅

Kalau pada nanya, Bilal udah di sapih belum? Ini masih proses, makin kenceng nyusunya, makin ngamuk kalau dijelaskan udah nggak boleh nenen, kalo dilarang sampe guling-gulingan mengarah ke ngamuk tantrum. Saya masih nunggu waktu yang tepat dan masih nyari cara supaya setidaknya Bilal agak ikhlas melepas nenennya. Karena saya perhatiin ini sungguh jauh lebih susah daripada Alif 😔

Milestone menurut kpsp gimana? Skor 9, alhamdulillaah. Imunisasi lengkap, motorik halus bagus (kata emaknya sih. Hahaha...), motorik kasar juga berkembang dengan baik. Nendang dan lempar bola bisa, mengayuh sepeda sudah mulai mau dan bisa sedikit-sedikit, bikin lego / balok besar sudah mulai bisa, pegang pensil / crayon juga sudah bagus. Musikalisasinya menurut kangmas Bilal cukup menonjol. Lebih sensitif sama musik dan nada, suka nyanyi-nyanyi walau lagu apa entah nyambung sama lagu apa dan lirik suka-suka. Kalo denger musik otomatis goyang dan aduh itu jogednya bayik banget. Kalo kakaknya dulu cool bener, Bilal mah bayiiiik deh.

Apalagi ya? Kayaknya sekian dulu update-an dari mamak yang moodnya buat update blog benar-benar kacau. Next akan update milestone Alif, Bilal, cerita Alif sekolah dan lain-lain. Semoga saja tidak malas. Aamiiin...

Saturday, March 17, 2018

Tentang mata

Haiyaah judulnya nggak banget. Maafkan, mamak lagi dilanda galau akibat mata. Sebenernya saya sudah menyiapkan diri cukup lama untuk kemungkinan ini, tapi tetap saja, sebagai ibu, saya merasa sedih dan sedikit terpukul.

Kemarin, (Jum’at 16032018) Alif dan Bilal saya bawa konsul ke dokter mata. Untuk Bilal merupakan yang kedua kalinya, sedangkan Alif yang pertama kali, walaupun ketika Bilal diperiksa beberapa waktu yang lalu Alif ikut menemani. 

Kenapa anak masih piyik gitu kudu periksa mata? Pertama, Alif dan Bilal lahir premature yang mana besar kemungkinan beberapa syaraf dan beberapa hal dari tubuhnya belum siap dan belum sempurna ketika lahir, salah satunya adalah syaraf di retina mata. Seharusnya, beberapa hari setelah dilahirkan, bayi premature menjalani serangkaian tes seperti tes pendengaran dan tes ROP (Retinopathy of Prematurity). Karena Alif dan Bilal tidak hanya lahir premature tetapi juga dengan keadaan yang kurang cukup baik, ketika itu saya mengabaikannya. Terutama Alif, karena jujur saya dan abahnya tidak punya cukup biaya untuk membawa Alif tes kesana kemari. Kami cukup habis-habisan untuk biaya perawatan Alif di NiCu dan perina, juga kami nggak mau menyusahkan orang tua lagi. Sambil berdoa banyak-banyak dan terus observasi, saya berharap Alif tidak memiliki masalah pada retinanya dan juga pendengarannya. Alhamdulillaah, perkembangan Alif sangat bagus sehingga saya tidak terlalu khawatir.

Untuk Bilal, kejadiannya sama persis. Tetapi ketika itu, di RS sudah tersedia test pendengaran dan untuk test pendengaran Bilal dinyatakan baik. Lagi-lagi saya alpanuntuk urusan mata, ketika usia 3 bulan saya melihat bola mata Bilal sedikit aneh, maka saya memeriksakan Bilal ke spesialis retina mata dan alhamdulillah syaraf mata juga retinanya bagus, tidak mengalami ROP. Ketika saya periksa ROP dokter menyarankan untuk evaluasi sekitar setahun kemudian, juga untuk Alif agar diperiksa matanya karena anak yang terlahir premature rentan terkena myopi, astigmatisma dan hypermetropi. Saya iyakan, namun belum ada rencana apa-apa. Sampai belakangan ini Alif sering sekali menonton langsung di depan televisi, jaraknya dekat sekali. Jika diberitahu, akan mundur tapi nggak lama maju lagi. Mamak dan nenek sampe bosan kasih taunya. Feeling saya mulai nggak enak, saya mau daftar dokter tapi masih menyiapkan diri. Sampai beberapa hari lalu.

Kangmas bilang ke saya kalau matanya Bilal agak aneh, sedikit juling. Tapi cuma sebentar dan nggak terlalu jelas. Saya langsung dheegg. Saya juga pernah lihat mata Bilal seperti nggak fokus, tapi nggak saya acuhkan. Saya tes dengan meminta melihat ke arah jari saya pandangannya baik-baik saja. Waktu kangmas bilang gitu saya mulai aware, saya perhatiin banget. Dan memang kadang ada saat dimana seperti agak juling. Langsung parno, bikin appointment ke dokter mata anak. Untuk Alif dan Bilal. Sebenrnya kangmas lagi nggak bisa nemenin karena keluar kota, tapi saya bulatkan tekad, lebih cepat lebih baik. Jadi saya minta temani sama mama.

Pagi-pagi Alif harusnya sekolah dulu, tapi saya skip. Saya biarkan mereka tidur biar tidak cranky karena ngantuk di dokter nanti. Tapi nyatanya tetep aja rusuh, walau nggak cranky. Kami datang agak terlambat, setelah daftar langsung naik ke lantai 3. Oiya, saya periksakan ke JEC menteng, saya pilih RS yang dekat dari rumah dan reviewnya kredibel. Saya nggak mau main-main sama mata, apalagi mata anak-anak.

Di lantai 3, Alif dan Bilal diperiksa dulu pakai alat yang ditempelkan ke muka itu, yang jidat dan dagu harus nempel di ruangan BDR. Susah boook, anaknya nggak bisa diam dan kedip-kedip mulu. Apalagi Bilal, tapi pas pemeriksaan awal Bilal lebih kooperatif. Setelah periksa pakai alat, Alif diminta membaca huruf-huruf dan angka. Tapi Alifnya malaaas, katanya jauh, Alif nggak kelihatan. Alif maunya yang besar aja. Ya kaliii hurufnya gede semua terus. Sampe petugasnya agak stres juga sama Alif dan bilang, nanti di cek lagi kok pastinya. Setelah itu, dikasi obat tetes mata supaya retinanya membesar. Again, drama kalo si Alif. Sampe dipegangin 3 orang karena nangis meronta dan nggak mau buka mata. Kalo Bilal cenderung smooth cukup emaknya yang pegangin. 


Habis itu harus nunggu 15 menit (yang mana jadi 30 menitan) sampai retinanya membesar. Setelah retina membesar di cek pakai alat lagi. Alif sukses, Bilal gagal. Sampe ganti alat sampe 3x, baru berhasil testnya. Ampun deeeh...

Habis itu langsung ke ruangan dokter, dan Alif di cek pakai kacamata. Dokternya sayangnya bukan tipe yang sabar banget sama anak-anak, apalagi sama anak nggak bisa diem kayak Alif. Saya bisa lihat beliau geregetan dan menahan nafas pas alif lepas-lepas kacamata, nggak mau baca, pegang-pegang lensa, pencet-pencet alat dan senter, juga rebut-rebut alat apalah itu. Kalau Bilal belum bisa test pakai lensa, ditest pakai senter yang di kedip-kedip dan di goyangkan.

Hasilnya...

Alif mata kanan minus 1,25 silindris 3, mata kiri minus 2,00 silindri 2,25. Kondisi syaraf dan retina bagus.
Bilal diagnosanya exotropic interminttens. Kondisi retina bagus.

Saya sudah feeling, tapi nggak nyangka segede itu minusnya. Saya udah feeling, tapi tetep berusaha denial kalau Bilal baik-baik aja.

Kalau ditanya sebabnya apa, banyak. Keturunan, premature, sampai gadget. Untuk Bilal, premature, dan otot matanya yang memang kurang kuat. Tapi dokter bilang, nggam usah dicari-cari penyebabnya ap. It happend. Lebih baik fokus bagaimana memperbaiki, mengobati agar tidak semakin memburuk, agar maksimal perawatannya sehingga makin membaik.

Untuk Alif, harus pakai kacamata. Untuk Bilal, di terapi dengan eye patch, sehari 2 jam bergantian mata kanan dan mata kiri. Tv dan gadget di batasi. Tidak di resepkan vitamin ataupun obat tetes. Fiuuuhhh.... Kata dokter, keadaan bisa membaik bisa memburuk, walaupun sudah diterapi. Karena kita nggak tau keadaan otot dan syaraf-syarafnya gimana. Kita berdoa saja semoga dengan terapi eye patch tidak sampai terjadi lazy eyes, otot matanya juga makin baik dan bisa fokus. Seandainya makin buruk (naudzubillah min dzalik), opsi terakhir adalah operasi. Huhuhuhuuu... 😭

Tadi malam sudah di coba ke Bilal eye patchnya, tapi Bilal nggak betah dan dilepas terus. Hiks... Hanya tahan satu jam, itupun belasan kali lepas tempel. Semoga besok-besok sudah mulai betah. Dan Alif, saya lagi browsing juga tanya-tanya kacamata yang aman dan nyaman untuk anak aktif macam Alif. 

Doakan dapat ya.. Doakan semuanya baik-baik saja.
Insya Allah evaluasi 6 bulan lagi, semoga makin membaik. Aamiin..